Posts

Showing posts from 2017

Linggarjati

Image
Bermalam di tanahmu yang subur, bersautan suara binatang malam, menyium aroma tanah basah, dan serumpun udara malam menerpa wajahku. Sayang, bagaimana kabarmu? Aku menyambangi kampung halamanmu, ‌tidak inginkah kau menemuiku? ‌oh, aku lupa jika dunia kita berbeda, pandangan kita berbeda, dan tubuh tak lagi berpagut. ‌aku ingin bertanya sekali lagi, ‌tak perlu kau sampaikan jawabanmu, tak perlu kau paksa mentari hadir di atas meja makanmu. Tak perlu menghabiskan waktu berkicau dengan suara hujan yang menghamburkan namamu. Sayang, masihkah ada namaku dihatimu? Apakah pertemuan kali itu tak berarti untukmu? ‌jawablah dalam hatimu, hati yang pernah aku seduh dalam hari hariku. Hati yang selalu aku semogakan. ‌sayang, jika kelak lelah telah meracuni hari harimu, kembalilah, percayakan padaku sebagai perawat rasa sakitmu. Tanganku selalu terbuka menjemputmu. . Ilustrasion : Taman Belakang Keraton Kasepuhan

Pantai

Image
Di Yogyakarta, waktu terasa berlari.  Belum aku mengunjungi tempat - tempat indah di sini,  aku harus pulang lagi.  Pertama aku menginjakkan kaki di pantai tak bernama itu aku telah putuskan,  setelah ini tak akan ada lagi pertanyaan siapa yang berkuasa atas takdir. Gunung kidul begitu tenang dan damai. Aku senang berada di sini.  Bagaimana dengan kamu. Ya kamu yang kelak akan melarungkan namaku pelan pelan. Kita ditakdirkan tak bersama dan tak memiliki perasaan yang sama. Tapi tenang saja, di sini aku akan kembali dan melupakan pilu. .

Nocturnal

Sederhananya impianku, kita kan gurat kan pena dalam perjalanan ini, bentangkan pena hingga bintang enggan untuk menodai. Sayangku, hati ini hanya selembar daun yang dapat jatuh dan musnah, maka ijinkan aku istirahat dan berbaring dalam hangatnya dirimu. Engkau yang senantiasa merona wajahnya dalam ingatan. Biarkan tajuk kisahmu menjadi sarapan pagiku dan biarkan jemarimu mengutipku sebagai cerita yang kelak akan kita luaskan, jauhkanku dari keparauan saat tak berada di sisimu. Karena takku temukan kata yang dapat aku telantarkan saat mencintaimu. Sayangku Hanya doa yang mempertautkan rinduku untukmu, menjadi nocturnal dan menyelipkan namamu dalam setiap doa sampai badai membuat karam kecemasanku Selamat datang dan janganlah kau pamit tanpa pesan indah untukku.

Opium 24 (sedikit bicara perempuan)

Tidak semua pilihan hidup yang kita pilih dapat diterima oleh semua pihak. Terlebih lagi menjadi seorang perempuan yang mempunyai hak atas tubuhnya sendiri menjadi sebuah tugas berat bagi perempuan. Kenapa, karena lagi lagi tidak semua orang dapat menerima pilihan yang perempuan pilih. Aku pernah menyusuri jalanan malioboro hingga pasar kemban kembali lagi ke sosrowijayan, beberapa penjaja seks baik yang perempuan tulen atau waria, mereka menjajakan seks berharap malam itu mereka mendapatkan penghasilan yang akan mereka gunakan untuk menyambung hidup. Terlepas dari masalah agama, hal ini tidak perlu dihakimi, karena memang kebutuhan hidup meningkat dan pemerintah dan masyarakatnya belum mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih “kondusif”. Fenomena tersebut tidak perlu jauh disangkut pautkan dengan agama, di mana semua orang tidak semuanya paham secara “Khaffah” mengenai ketentuan agama. Aku lebih menyudutkan tentang bagaimana peran pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerj...

Opium 24 (Part 3)

Impian yang sekedar tulisan. 

Opium 24 (Part 2)

Penyelam Hujan

          Kepandaianku menerjemahkan kopi tak sehebat dirimu menyelami hujan. Demikian pula dengan kepiawaianku dalam menentukan jalan yang harus ku pilih berbeda denganmu. Wahai lelaki penyelam hujan, tak indahkah nafasku hingga tak cukup aku membuat kenangan yang abadi di hidupmu. Saat kopi kau tandaskan, saat genangan hujan menangkap bayanganmu, pada hujan yang jatuh tak berpola di kota ini kau tuangkan amarah, kemudian dari balik tembok aku mengayuh kenangan yang telah kita ciptakan kemarin. Lelaki penyelam hujan, kau telah genap menyemai luka dari balik matamu. Lantas hujan di mana lagi akan kau dahulukan untuk kau selami.           Dapatkah aku menuang beberapa memori ke dalam cangkir kopimu? Hujan dan kopi tak pernah sia-sia aku hadapkan bersamamu. Pada malam-malam tanpa pulang senja, tanpa ijabah seorang kekasih, kau berada di hadapanku. Lagi, kau pandai menyelami hujan dan meninggalkan ...

Robusta klasik

Image
"Minum saja kopimu, jangan habiskan waktumu dengan bertanya padaku. Rasa pahit, dan juga rasa sakit, punya deadline sendiri" Pemetik Luka

Lelaki Jepara

Opium 24 (Part 1)

Aku merasa tak punya teman. Apa karena temanku banyak sehingga aku tak tahu yang mana sebenarnya teman dekatku.