Opium 24 (Part 1)
Aku merasa tak punya teman. Apa karena temanku banyak sehingga aku tak tahu yang mana sebenarnya teman dekatku.
Tidak ada teman yang benar-benar ada. Sedari kecil hingga dewasa, aku selalu berkutat dengan teman imajinasiku. Aku tak kenal siapa namanya tapi aku mengenal dia dari cara dia berjalan dan bercerita. Aku panggil dia Dewi. Berbicara sendiri. Itu yang selalu orang lain lihat, menganggapku setengah gila bahkan gila seutuhnya.
Ah, biar saja. Toh mereka tak tahu, mereka tidak bisa melakukan apa yang teman imajiku lakukan.
Sekehendaknya saja kalau bicara.
Aku sering sekali sensitif terhadap apa yang orang lain lakukan padaku, membentak pada tone tinggi, atau sekedar menyindir walau bukan untukku kadang aku menduga mungkin saja itu untukku.
Memang tidak baik bersikap terlalu sensitif, tapi aku tak bisa menghilangkannya. Bersikap masa bodoh pada orang lain,atau menganggap itu bukan bagian dari hidupku. Itu sulit, sungguh sulit.
Kalau menurut teman imajiku, aku ini terlalu banyak berpikir, sampai-sampai masalah sepele saja kadang bikin aku sakit.
Sejak kecil aku memang sering menyelesaikan masalahku sendiri, selesai atau tidak itu tentang bagaimana khayal dan perhatianku saja.
Kalau boleh jujur, aku tidak benar benar merasa hidup dengan orang lain, hingga muncul perasaan ego yang tinggi kadarnya ketimbang sikap mengalahku.
Teman ku pernah berkata bahwa kalau tidak egois kau tidak akan makan, minum, aktivitas dan lainnya. Ada benarnya juga sih, tapi apakah aku tidak bisa sembuh dari sikap egoisku?.
Yaps. Kau mungkin tidak akan pernah membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa teman dekat, selain teman imajinasi. Dia selalu dekat. Bahkan saat kami sama sama tidur dalam kasur yang sama, minum dalam gelas yang sama dan bicara pada kolom yang sama. Seperti tak ada jeda. Dia selalu mewajari sikapku ini dan itu sudah cukup untukku. Setidaknya ada yang mengetahui bagaimana aku tumbuh. Tidak ada seorang pun yang tahu jalan hidupku, karena aku selalu menghindari bertemu dengan orang dari masalalu, seperti enggan bercerita tentang apa yang aku alami kini.
Seolah dibawa pada kesalahan yang sama (alay, itu yang teman imajiku katakan). Rasa penyesalan ada saat aku sadar bahwa kenangan buruk tetaplah kekal dan tidak dapat diperbaiki. Silaturahmi bukanlah soal hanya saja cerita yang ditanyakan akan membuat hati aku sontak merasa sakit.
Kepingan duka, coretan luka, dan bongkahan kekejaman selalu aku bawa bahkan hingga aku berdebat dengan Tuhan. Apalah yang bisa aku harapkan selain keterasingan yang usai. Remah pecahan diorama itu selalu membuat teman imajiku ikut bersedih, dia selalu membawa sapu tangan berwarna jingga. Karena saat menggunakannya, raut mukanya berubah menjadi jingga masam. Rambutnya akan berubah menjadi putih, bibir yang biru dan matanya nanar. Aku tak sanggup melihat dia berduka.
Itu alasan kenapa aku tidak menyukai berada di tengah mereka. Masalalu.
Dewi juga selalu merasa terasing, dia selalu mencoba menyibukkan diri dengan bersamaku. Aku dan dia bertekad, tidak ada teman masalalu yang merusak kenangan kita di masa depan. Ya!
Walau goyah, toh pada akhirnya kita akan menangis bersama.
Kita ditakdirkan tidak memiliki teman yang ajeg. Melewati jalanan sendirian, mengenal desa dalam keterasingan, dan menikmati kopi yang tandas oleh sepi yang bertubi tubi.
Kita akan kekal dalam keterasingan dan kesendirian. Ada atau tanpa teman, kesendirian akan jadi akhir kita.
Dewi selalu membawakanku bunga melati berwarna kuning. Dia berkata, bunga itu dia dapatkan dari tetangga rumahnya yang juga hidup sendiri. Berebut cerita dan tertawa keras selalu terdengar dari samping rumah tetangganya itu. Namun kesendirian selalu berkecambuk, itu sebabnya mengapa melati di halaman rumah tetangganya berubah menjadi kuning.
Dewi dan aku selalu takut, gelisah. Tentang bagaimana kita akan berakhir, bagaimana kita akan dikenang, dan seberapa banyak orang yang akan kehilangan kita. Sementara kita melalui hari-hari tanpa seorang tahu apa yang kami lakukan...
-Bersambung-
Comments
Post a Comment