Posts

Showing posts from March, 2017

Penyelam Hujan

          Kepandaianku menerjemahkan kopi tak sehebat dirimu menyelami hujan. Demikian pula dengan kepiawaianku dalam menentukan jalan yang harus ku pilih berbeda denganmu. Wahai lelaki penyelam hujan, tak indahkah nafasku hingga tak cukup aku membuat kenangan yang abadi di hidupmu. Saat kopi kau tandaskan, saat genangan hujan menangkap bayanganmu, pada hujan yang jatuh tak berpola di kota ini kau tuangkan amarah, kemudian dari balik tembok aku mengayuh kenangan yang telah kita ciptakan kemarin. Lelaki penyelam hujan, kau telah genap menyemai luka dari balik matamu. Lantas hujan di mana lagi akan kau dahulukan untuk kau selami.           Dapatkah aku menuang beberapa memori ke dalam cangkir kopimu? Hujan dan kopi tak pernah sia-sia aku hadapkan bersamamu. Pada malam-malam tanpa pulang senja, tanpa ijabah seorang kekasih, kau berada di hadapanku. Lagi, kau pandai menyelami hujan dan meninggalkan ...

Robusta klasik

Image
"Minum saja kopimu, jangan habiskan waktumu dengan bertanya padaku. Rasa pahit, dan juga rasa sakit, punya deadline sendiri" Pemetik Luka