Robusta klasik

"Minum saja kopimu, jangan habiskan waktumu dengan bertanya padaku. Rasa pahit, dan juga rasa sakit, punya deadline sendiri" Pemetik Luka
Kopi mempertemukan aku pada sosok hati yang berbahagia, unik, dan berjuang demi cinta. Memberikanku memori yang tak bisa aku lupakan,
***
Seduhanmu ku kulum lekat-lekat. Merasakan asam dan pahitnya robusta klasik. Menyelami kedalaman getirnya, delusi yang tercipta saat ku ambil sebagian tatapan matamu. Mencermati setiap gerakan yang tak pernah aku temukan sebelumnya.
Kutinggalkan harapan dalam ampas kopimu dan mengunyahnya agar aku resapi kisahnya.
Kopi selanjutnya kau seduhkan, terbuka sebuah degup yang selama ini jauh kau tinggalkan. Seperti kopi sebelumnya, aku tak pernah memesan manis dalam setiap tegukannya. Meninggalkan harapan dalam ampasnya dan lagi, ku kunyah agar kuresapi kisahmu.
Matamu menangkap lain. Guratan sorot itu seolah membelah gelap malam dan menjatuhkannya pada seduhan terakhirmu padaku.
Ya. Seduhan yang kau tuang perlahan. Kau menikmatinya, sementara hanya aku menikmati matamu yang tertuju pada kopi robusta klasik.
Menaruhnya tepat di hadapanku dan kemudian berpindah.
Dalam buih mata kopi itu tak kulihat aku. Lantas siapa yang sedang kau istimewakan? Ujung matamu yang sendu tak ku temukan sebuah warnaku. Warna yang ingin menemani harimu menyeduh. Rupanya kau tak ingin warna lain dalam seduhan yang kau tuangkan.
Memorimu tersimpan lekat dalan otak dan hati ini. Sementara kau menyeduhkannya untuk seorang yang tepat berada di sampingmu. Sahabatku sendiri.
Lantas masih pantaskah aku menikmati seduhanmu namun frasamu tak bersama tegukan yang aku kulum.
Malam itu begitu gelap dan amat riuh untukku tumpahkan, kopimu tak lagi sepahit dulu. Sayang, aku harus tandaskan segalanya.
Terima kasih atas pahit yang kau suguhkan.
Cirebon, 3 Maret 2017
@Mubtada kopi
Seduhanmu ku kulum lekat-lekat. Merasakan asam dan pahitnya robusta klasik. Menyelami kedalaman getirnya, delusi yang tercipta saat ku ambil sebagian tatapan matamu. Mencermati setiap gerakan yang tak pernah aku temukan sebelumnya.
Kutinggalkan harapan dalam ampas kopimu dan mengunyahnya agar aku resapi kisahnya.
Kopi selanjutnya kau seduhkan, terbuka sebuah degup yang selama ini jauh kau tinggalkan. Seperti kopi sebelumnya, aku tak pernah memesan manis dalam setiap tegukannya. Meninggalkan harapan dalam ampasnya dan lagi, ku kunyah agar kuresapi kisahmu.
Matamu menangkap lain. Guratan sorot itu seolah membelah gelap malam dan menjatuhkannya pada seduhan terakhirmu padaku.
Ya. Seduhan yang kau tuang perlahan. Kau menikmatinya, sementara hanya aku menikmati matamu yang tertuju pada kopi robusta klasik.
Menaruhnya tepat di hadapanku dan kemudian berpindah.
Dalam buih mata kopi itu tak kulihat aku. Lantas siapa yang sedang kau istimewakan? Ujung matamu yang sendu tak ku temukan sebuah warnaku. Warna yang ingin menemani harimu menyeduh. Rupanya kau tak ingin warna lain dalam seduhan yang kau tuangkan.
Memorimu tersimpan lekat dalan otak dan hati ini. Sementara kau menyeduhkannya untuk seorang yang tepat berada di sampingmu. Sahabatku sendiri.
Lantas masih pantaskah aku menikmati seduhanmu namun frasamu tak bersama tegukan yang aku kulum.
Malam itu begitu gelap dan amat riuh untukku tumpahkan, kopimu tak lagi sepahit dulu. Sayang, aku harus tandaskan segalanya.
Terima kasih atas pahit yang kau suguhkan.
Cirebon, 3 Maret 2017
Comments
Post a Comment