Penyelam Hujan

          Kepandaianku menerjemahkan kopi tak sehebat dirimu menyelami hujan. Demikian pula dengan kepiawaianku dalam menentukan jalan yang harus ku pilih berbeda denganmu. Wahai lelaki penyelam hujan, tak indahkah nafasku hingga tak cukup aku membuat kenangan yang abadi di hidupmu. Saat kopi kau tandaskan, saat genangan hujan menangkap bayanganmu, pada hujan yang jatuh tak berpola di kota ini kau tuangkan amarah, kemudian dari balik tembok aku mengayuh kenangan yang telah kita ciptakan kemarin. Lelaki penyelam hujan, kau telah genap menyemai luka dari balik matamu. Lantas hujan di mana lagi akan kau dahulukan untuk kau selami. 
         Dapatkah aku menuang beberapa memori ke dalam cangkir kopimu? Hujan dan kopi tak pernah sia-sia aku hadapkan bersamamu. Pada malam-malam tanpa pulang senja, tanpa ijabah seorang kekasih, kau berada di hadapanku. Lagi, kau pandai menyelami hujan dan meninggalkan cerita yang tak kasat dalam ingatan.
        Lantas malam hujan mana lagi yang akan kau tinggalkan di atas meja. Sementara, meja di mana kita tandaskan kesepian yang semu pun tak berbicara apa-apa. Lelaki penyelam hujan, aku tak sehebat penerjemah kopi. Juga tak sepandai dirimu menyelami hujan. Maka memori mana lagi yang akan aku jalani bersamamu di kemudian hari, ketika sudah tak ada lagi rinai yang sama untuk kita nikmati berdua.
       Di kedai ini aku menanti cerita hari-harimu. Kandaskan sakit dirinai hujan. Menidurkan kedamaian pada bangku kedai dekat stasiun. Kelam malam leluasa menjadi santapan nikmat para pemburu frasa. Kau datang dengan kepedihan yang kau bungkus senyum. Malam telah larut dan terlindas sepi bertubi-tubi. Mendaratkan lelah pada secangkir kopi linthong, yang kau terjemahkan dengan syahdu.



Cirebon, 19 Maret 2017.
M.A


Comments

Popular posts from this blog

TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA

Melankoli !

Sedang tebangun dari tidur panjang