Posts

Februari kesepuluh

Ini adalah februari kesekian, Februari yang kau tinggalkan dengan segala harapan, Ini adalah februari kesekian, Februari yang kau pendam dalam kedukaan, Ini adalah februari kesekian, Februari yang pilu saat titik air hujan menghapuskan langkah-langkahmu. Februari kesepuluh Ingatan-ingatan itu bermunculan dan tak sempat lagi aku singkirkan. Februari kesepuluh Ketika hujan datang begitu terburu-buru, sementara aku tak sempat menyiapkan payung hitamku. Kau menjadi ingatan yang terlambat aku lupakan, berulang kali jutaan usaha melupakan itu aku lalui, tapi aku terlalu kalah untuk kau uji, sayangku. Februariku adalah kesia-siaan melupakanmu, sampaikan pada ingatanmu, bahwa aku telah baik-baik saja dengan segala upaya melupakanmu dan segala kecacatan dalam mengenangmu. bilang pada ingatanmu bahwa hati ini belum juga pulih oleh rasa kehilangan yang amat deras, yang tak pernah tahu bagaimana caranya mengalah pada kenyataan. Kau yang ku sebut Februari, Jemari ini tak lekas ...

Rasanya Kehilangan Teman

Tahun-tahun yang sulit, entah mengapa sejak aku lulus kuliah seolah teman datang dan pergi. punya kepentingan dan tidak. terlebih lagi di dunia kerja, pertemanan hanya sebuah kefanaan yang abadi. mereka datang hanya ketika mereka memiliki kepentingan. Datang dengan penuh keceriaan dan hari-hari penuh dengan canda tawa, suka-duka, berbagai cerita-lah,  pokoknya. Namun saat pemahaman kami tak bisa menyatu maka jangan heran seketika segala media sosial akan hilang tertelan amarah. seolah kisah kemarin sore tak pernah terjadi, seolah segala rasa, karsa dan bahasa yang pernah diluapkan bersama tak memiliki arti. Aku tak mengerti sebenarnya apa konsep sebuah pertemanan di masa-masa dewasa kini apakah melulu tentang kepentingan? ataukah memang harus dengan kepentingan kita memulai sebuah pertemanan? lalu mengapa harus berlabel pertemanan maka akan berujung sebuah permusuhan.  Berawal dari keberadaanku sebagai anak baru di kantor ini. 5 bulan setelah aku bekerja aku baru mengena...

Malam-malam tanpa pulang

Selamat malam para pencari dunia. percayakah bahwa setiap langkah dan perjuangan yang telah kita lakukan adalah sebuah keharusan? aku pikir ini hanya sebuah ilusi yang kita bangun. Setiap orang bertandang dari satu tempat ke tempat lainnya hanya untuk menggali rezeki yang padahal ada pada bagaimana kita berbuat. sekeras apapun usaha, manusia tetaplah manusia, tapi sekecilnya doa, Tuhan tetaplah Tuhan. Kukembangkan payung berwana hijau bermotif kotak-kotak, yang aku beli pada sebuah minimarket di kampung halaman, saat terbungkus, payung ini terlihat mungil, namun setelah kukembangkan, dia bisa melindungiku dari gerimis rintik di kota yang amat sibuk ini. Jakarta, setiap sudut tak pernah lelah, selalu banyak cerita, kisah, dan kenangan. Gang-gang becek dan gelap, di kanan kirinya hendak dibangun kira-kira sebuah perhotelan. Pekerjanya sibuk merokok dan ngopi, membicarakan kepulangannya, tentang istri yang mau melahirkan, dan tentang anaknya yang mogok sekolah. beberapa dari mereka meng...

Memoar Kelahiran. (Refleksi Hari Kelahiran Jiwa)

Perjalanan adalah titian kisah hidup manusia. warna-warninya kita yang tentukan sendiri. tetapi sayang, aku tak punya cukup kuasa untuk menghadirkan warna-warni kisah dalam usiaku yang sudah meninggalkan masa seperempat abad. pilihan-pilihan dari banyak pihak telah mendoktrinku. bagaimana tidak. kegamanganku terhadap keputusan yang tengah dipertimbangkan, sudah keburu  di terkikis ombak. namun, ternyata usiaku kini ternyata bukan lagi soal huru-hara pesta, upacara tiup lilin yang terkesan dipaksakan atau tentang banyaknya kejutan serta hadiah yang diberikan. Memoar kelahiran. Bukan lagi sebuah angka, melainkan rekaman detik-detik hadirnya jiwa baru di dunia ini. siapa sangka, dulu Tuhan dan Jiwa telah melakukan perjanjian. Perjanjian suci antara insan dan Tuhannya. tentang kemana jiwa akan turun di muka bumi ini. mungkin jiwa itu memilih mereka sebagai indung nya atau mungkin, Tuhan yang berbaik hati menempatkan jiwa itu pada indung   yang beruntung. Minggu, 12 Ap...

Makan Malam

Karya Ocha Rosawati Suara petikan gitar dari radio masih terdengar menyayat, merambat perlahan pada dinding otak. Dalam kepulanganku malam itu, melihat lelaki tua masih saja muram. Kepalanya keluar dari lemari, sepertinya sedang mencari ingatan yang dia simpan di sana. Sepengetahuanku setoples kesakitan memang disimpan di sana, tapi untuk apa dia menambilnya. Butiran air bertetesan dari ujung rambutnya yang memutih. Dia kembali ke meja makan, menyendok lagi kuah sup . Kami berdua makan di tengah cahaya lilin yang meliuk-liuk. Bapak mengunyah tahu dengan gusar sembari memperhatikan sekitar. Aku pun ikut terbawa, apa yang sedang dia khawatirkan.

IKHTISAR

Suara Perempuan Banteng Moncong Putih (Analisis Mengenai Gender dalam Partai PDI Perjuangan) Rosawati,  P URWOKERTO,  20 13. Suara Perempuan Banteng Moncong Putih (Analisis Mengenai Gender dalam Partai PDI Perjuangan) Kami tidak minta diistimewakan atau berusaha merebut kekuasaan tertentu. Yang sebenarnya kami inginkan adalah sederhana, bahwa mereka mengangkat kaki mereka dari tubuh kami dan membiarkan kami berdiri tegap sama seperti manusia lainnya yang diciptakan Tuhan (Sarah Grimke, 1837) [1] Perempuan selama ini memang dianggap sebagai mahluk unik yang memiliki peran begitu kuat dalam kehidupan terlepas dari kelemahan-kelemahan yang selama inidibicarakan. Perempuan dianggap sebagai tiang nya negara, apabila perempuan hancur maka niscaya suatu negara akan hancur pula. Bahkan perempuan diberikan anugerah terindah dengan diberikan penghormatan bahwa surga ada di telapak kaki ibu (seorang perempuan). Tapi perempuan selama ini juga dian...

Bahagia yang meninggalkan kampung halamannya

Pagi itu membawaku ke dalam masa-masa indah yang kuciptakan. Memulainya dengan senyuman. Menyapa burung gereja yang bertengger. Berbincang dengan serangga sementara kucing – kucing berteriak kelaparan. Pagi ini sangatlah berbahagia, sisa embun enggan mengering setelah semalaman dihajar badai. Matahari perlahan menghangatkan kampungku. Aroma tanah basah membentur penciumanku. Tidak ada angin yang bertiup sekencang kemarin, hanya ada kehangatan pagi dan jiwa yang tengah berbahagia.