Makan Malam

Karya Ocha Rosawati

Suara petikan gitar dari radio masih terdengar menyayat, merambat perlahan pada dinding otak. Dalam kepulanganku malam itu, melihat lelaki tua masih saja muram. Kepalanya keluar dari lemari, sepertinya sedang mencari ingatan yang dia simpan di sana. Sepengetahuanku setoples kesakitan memang disimpan di sana, tapi untuk apa dia menambilnya. Butiran air bertetesan dari ujung rambutnya yang memutih. Dia kembali ke meja makan, menyendok lagi kuah sup . Kami berdua makan di tengah cahaya lilin yang meliuk-liuk. Bapak mengunyah tahu dengan gusar sembari memperhatikan sekitar. Aku pun ikut terbawa, apa yang sedang dia khawatirkan.


Angin berhembus menikam tirai dapur yang usang, memberikan kabar buruk tentang kekhawatiran. Benarkah itu, tapi sepertinya ada yang salah dengan kabar itu. Barangkali, angin itu telah salah memberitakannya. Atau aku yang belum tuntas dengan kekhawatiran ini. Meja diam-diam bergetar mengeja setiap hembusannya. Tangan lelaki di hadapanku membatu. Hampir lupa, kalau parkinson tengah menyerangnya sejak tiga bulan lalu.
Kami kembali masuk dalam keremangan. Ku pandangi gelas, yang tertembus sinar indikator radio. Apakah benar radio bisa mengerti perasaan pendengarnya atau mungkin sebenarnya ia bernyawa. Menangkap lirikan bapak yang tertuju padaku. Aku ciut di buatnya. Tak mampu untuk membahasakan ketakutanku. Jangankan berbicara, pandangan mata bapak amat membuatku seolah terjun dengan bungee jumping. Sering kali kepalaku dibenturkan ke tembok, kadang juga tubuh ini memar kebiruan. Sedikitpun aku tak berharap berbicara banyak dengannya. Aku telah membenci bapak, semenjak tangannya yang kasar melayang di wajahku. Ibu selalu mengingatkanku jika sebenarnya bapak amat sangat mencintaiku, sikapnya yang kasar hanya karena bapak tak tahu bagaimana mesti bersikap kepadaku. Ya, begitulah ibu. Selalu mencegahku membenci bapak.
Pintu dapur berderit, mengacaukan konsentrasiku mengamati bapak. Di pintu itulah saksi tiap kali Bapak mendaratkan berbagai macam benda ke tubuhku. Memang bukan saja pintu itu tapi seluruh benda diruangan ini menjadi saksi bahkan seekor semut pun dapat angkat bicara. Ya, karena pintu itu menahan tubuhku.
“Nanti siang kau bereskan pintu itu.” Ujar bapak sambil mengunyah potongan tempe terakhirnya.
Suatu hari ia pernah berujar padaku, bahwa aku adalah serigala kecil yang ia pelihara, yang boleh kalah oleh jaman, tak boleh kalah oleh segala jenis pukulan. Terkaman serigala sangat kuat dan mampu melumpuhkan musuhnya.
Bapak mengunyah makanan dengan sangat pelan, seperti ada yang tengah dipikirkannya. Tangannya mengaduk-aduk mangkuk berisi sup. Matanya mengingat-ingat sesuatu. “Kau tahu?ehm” beberapa saat dia terdiam, “Ah sudahlah.” Tebakanku, bapak hendak menanyakan toples pesakitan. Ya, beberapakali aku menemukannya sedang mencari toples itu di lemari. Dia tak tahu kalau aku telah menguburkannya di samping halaman rumah. Ibu mengetahuinya, tapi sejak kepergian ibu tak ada lagi yang  bisa memberitahu bapak. Aku lega.
Botol anggur telah kosong, lidahku terasa getir lalu beranjak mencari botol yang terisi di etalase dapur. Cahaya yang minim membuatku sulit menemukannya. Kuberanikan diri bertanya pada bapak.
“Itu adalah botol terakhir yang kau habiskan. Uang yang kau kirimkan tak cukup untuk membelinya, Bodoh !”
Hanya sari lemon yang tersaji di dalam kulkas, entah sudah berapa lama, aku tak sanggup membaca tanggal kadaluarsa yang telah memudar ini. Sudahlah.
Honorku sebagai pengumpul berita tak cukup untuk membiayai pengobatan bapak yang mengidap penyakit aneh. Setiap kali memeriksakan bapak, dokter selalu menjawab, bapak sehat-sehat saja. Dari rumah sakit ternama hingga dukun. Tapi bapak tetap saja tak kunjung sembuh. Aku menyerah dan kembali ke perantauan. Ku kirimi uang lewat tetangga yang sering bantu-bantu di rumah.
Radio lagi lagi menyebutkan beberapa nama di tengah petikan gitarnya. Bapak kembali berhenti menikmati makanannya. Rahangnya mengeras, matanya membelalak, dengan keras ia meletakkan sendok dan garpunya. Sup kembali membuncah.
Radio yang telah mengabarkan kematian, berulangkali bapak banting dan kemudian diperbaikinya lagi. Kejadian itu terus berulang setiap kali petikan gitar mengiring penyebutan nama korban tragedi perpecahan di daerah konflik. Anak tercintanya telah menjadi korban saat ditugaskan di perbatasan. Perusahaannya tak bertanggung jawab atas pemberitaan yang beredar.
“Sudahlah, Pak. Ini sudah tujuh tahun setelah kematian ucok. Bapak tak perlu lagi sedih, ucok telah bahagia.” Matanya beringas menatapku, memukul meja makan.
“Tutup mulutmu ! aku telah menyesal membesarkanmu, tak punya rasa iba ! ucok itu masih hidup. Kau tak pernah tahu bagaimana pemberitaan yang beredar hanyalah sebuah kebohongan, sama bohongnya ketika aku mengetahui kau malah menjadi pemburu berita. Bodoh !”
Kusergap tissu dan membersihkan mulutku.
“Bapak tak pernah tahu kan bagaimana aku hidupdan bekerja.”
Persetan dengan ketakutanku akan kemurkaan bapak. Ini sudah kelewatan. Sudah bertahun-tahun aku dengan ketabahan mengurusnya, memberikan waktu memikirkan dia yang sering kumat penyakitnya.
“Benar-benar menyesal aku membesarkan anak hasil perselingkuhan. Keibaanku akan dirimu hanya berbuah penyesalan.”
Lagi. Kalimat terucap dari mulutnya yang kejam. Bagaimana malam-malam ini terus aku lalui saat tengah pulang ke rumah. Pulang demi dapat makan malam bersama bapak, sementara bapak hanya melempariku dengan hinaan, menelanjangiku dengan sebuah kisah tragis tentang kelahiranku. Bapak yang tak pernah menganggapku anaknya, bapak yang memelihara seekor serigala. Pembawa onar dan pencoreng nama keluarga.
“Cepat matikan radionya!” gertaknya. Buru-buru aku mematikannya dan hendak berlalu. “Benda itu menyiarkan kebohongan ! sama seperti berita kematian kakakmu. Brengsek.”
Aku meremas garpu dan sendok, membantingkan sendok pada mangkuk berisi sup. Meninggalkan Bapak dengan cahaya lilin yang meliuk-liuk. Sementara radio masih menyiarkan petikan gitar yang terdengar menyayat, pengantar berita kematian.


Comments

Popular posts from this blog

TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA

Melankoli !

Sedang tebangun dari tidur panjang