Bukan Teman
Ketika aku menulis ini aku telah kehilangan sahabat, teman dan
kakak, yang belum genap setahun menemaniku hampir disetiap minggunya. Setelah
ini aku tak banyak bicara lagi, tapi tolong biarkan aku mengungkapkan segalanya
tentang kita.
Pertemuan kita memang unik, disebuah penantian konser musik. Aku
mengenalmu. Ya, kamu Kak. Perempuan unik yang menahan gejolak untuk merokok
ditempat umum. Karena aku kau mengumpulkan keberanian. “Hi Friend,” kataku sambil menepuk pundakmu.
Sejak saat itu kita jarang bertemu selama kurun waktu satu tahun karena
berbagai kesibukan yang menyita seluruh kewarasan kita.
Kembali bertemu ketika menonton salah satu pertunjukan teater di
kampusmu. Kita sadar tidak ada yang namanya kebetulan. Kau tahu Kak, aku
mungkin akan berusaha sekuat tenaga untuk tak cengeng dan menjagamu ketika aku
bersamamu. Mengajakmu ngopi dibanyak
kedai kopi di kota ini, menjaring matahari sore dan kita suguhkan di atas
meja,meneguk sari pati senja yang tak dinikmati orang banyak. Meja kita tak
pernah sepi, ada cerita, ada prahara, ada kebencian dan lelah atas situ. Kita
hanya memesan kopi tubruk dan dua bungkus rokok putih yang kita beli di
minimarket jahanam itu.
Hujan melanda, kau menungguku di sisi jalan. Hanya untuk ngopi dan menandaskan penat. Atau kita
sama-sama bercerita bagaimana payahnya dirimu mencintai dia yang telah meminang
seorang wanita tetapi bukan dirimu. Kau nyaris putus asa, tak punya gairah
hidup dan kau tak pernah merasa baik-baik. Menyebarkan senyum palsu pada semua
orang yang kau temui. Hatiku sedih, Kak. Saat aku tak bisa berbuat apa – apa
untukmu. Setiap kali bertemu, kau selalu meminjam handphone-ku dan mencari tahu
aktivitas dia, orang yang telah mematahkan semangatmu. Dalam benakku, aku akan
melakukan banyak agar kau bisa kembali memiliki harapan. Selalu ada ketika kau
membutuhkanku, memberikan bahu ketika hendak kau keluarkan segala sesak dalam
kantung matamu.
Kepulan asap keluar dari bibirmu yang bulat, manis senyummu mampu
membuat orang terkesima. Bagaimana mungkin tak ada seorang yang tak ingin tua
bersamamu, Kak. “Bahagialah.” Kataku sambil membenarkan letak kerudungmu. Lirik
hujan memenuhi seluruh kota, namun kopi tak pernah sia-sia diseduhkan, ceritamu
yang kini amat merindunya adalah satu-satunya cemilan di atas meja ini. Ketika
Sapardi berkata,
Kita berdua saja, duduk
Aku memesan ilalang panjang dan
bunga rumput
Kau entah memesan apa
Aku memesan batu di tengah sungai
terjal yang deras
Kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk
Aku memesan rasa sakit yang tak putus
dan nyaring lengkingnya memesan rasa lapar yang asing itu.
Sepertinya puisi itu selalu kita suguhkan di tengah kopi yang mulai
dingin diterpa hujan. Kau berkali kali menahan kantung mata yang hendak pecah,
seolah kau tahan agar ia tak banyak bicara. Kita menikmati hujan sesekali
melemparkan tawa dan cerita konyol. Aku bahagia melihatmu tertawa. Sementara aku pun mencurahkan beberapa
perasaan yang tak pernah kau ketahui sebelumnya.
Aku bercerita tentang perasaanku pada seseorang yang aku temui di
forum naskah kita. Walau naskah itu telah selesai tapi tak pernah berhasil
ditampilkan. Saat waktunya rapat hanya sekitar lima orang yang hadir, kita
mengakhiri hari itu dengan berkaraoke ria. Mas Hadi, Mas Dian, Mas Evan, Mas
Faisal, Kakak, dan Aku. Kau bersama Mas Hadi, karaokean ini sekaligus
memperpanjang waktu kebersamaan kalian, bukan? Kalian menikmatinya.
Begitupun aku. Ya, belum aku ceritakan di sini sebenarnya aku
memiliki perasaan kepada Mas Dian. Tak bisa aku tutupi. Aku menyayanginya,
mungkin kamu berpikir aku terlallu terburu-buru. Tapi tidak bagiku, Kak. Pada
tahap ini aku telah menyerahkan segala keputusan semesta hendak kemana perasaan
ini akan berakhir. Melihatnya lewat instagram, profil BBM, aku telah bahagia
dan tenang bahwa dirinya sedang baik-baik saja. Dekat dengannya saat di rom
karaoke dan menyanyikan lagu bersamanya adalah peristiwa yang sangat aku
idamkan. Memandangi wajahnya dalam remang lampu karaoke, menghabiskan banyak
rokok untuk menghangatkan suasana. Meminum sebotol besar mineral dan minuman
bersoda. Kita bahagia dan menikmatinya. Malam
telah larut dan kita masih saja menyanyikan senandung biru. Aku tak pernah tahu
bahwa pertemuan kali ini adalah pertemuan kita yang bahagia untuk terakhir
kalinya.
Tuhan mungkin tahu bagaimana rindunya aku kepadamu, Kak. Kau telah
mengerti tentang bagaimana menganyam lukaku, tapi aku tak pernah berhasil
mengobati lukamu. Tapi sebagai gantinya akan aku sediakan waktu untuk
menemanimu, semau yang kau perlu.
Kak, sejak kepergian kakak kandungku beberapa bulan lalu, aku tak
lagi menemukan kebahagiaan di dalam rumah. Memang, kehilangan adalah hal yang
bisa kita binasakan. Alam selalu bisa membuat orang yang kita sayangi pergi
bergitu saja. Setelah kepergiannya pula aku tak memiliki banyak celah untuk
bahagia. Namun saat kembali bertemu denganmu, Kak. Kau banyak mengenalkanku
pada keramahan, kehangatan yang selama ini hilang. Kau mungkin bisa berkata
“Anna, baik-baik aja, Lyn.” Kau ucapkan itu sambil menyeruput kopi dan
mengaduk-aduk ampasnya kemudian kau baluri dibatang rokok yang akan kau bakar.
Kak, saat aku hendak menyerah dengan Mas Dian, kau justru
mempertemukan aku dengannya di sebuah acara wisuda pada Oktober 2016. Kita bersama
sama mencari tempat ngopi di pinggir jalan di daerah kabupaten. Mendaratkan
lelah, Mas Dian memesan kopi untukku dan Kak Anna.
Kau ingat, Kak, kita bercerita tentang dirimu dan Mas Hadi,
membicarakan tentang hubungan dengan kekasihnya. Aku lihat dari matamu
keresahan meletup-letup. Aku tahu bagaimana perasaanmu, Kak.
Demi mengalihkan perhatian, aku mencoba membaca tanda tangan milik
Mas Dian. Kulihat mata kalian berdua amat serius mendengar pembacaanku, aku
menyukai saat seperti ini. Dekat dengan kalian sudah cukup membuatku bahagia.
Mas Dian menceritakan tentang sikapnya yang selalu mementingkan orang yang ada
disekitarnya ketimbang berbicara atau chit-chat dengan orang lain melalui
handphone. Ya, aku dan Kak Anna selalu dibuat kesal karena itu. Ya tapi
bagaimanapun Mas Dian memang seperti itu, kadang memang seseorang tak bisa
serta merta mengetahui apa yang dia alami. Aku membantu Mas Dian menemukan apa
yang tidak ia sadari selama ini.
Kau tahu, Kak. Aku sangat amat bahagia sore itu. Bersama kalian,
duduk satu meja dan berbagi tembakau adalah hal biasa namun menghangatkan,
terlebih lagi sore ini di musim dingin yang panjang. Aku amat berterima kasih
kepada semesta dan berdoa agar kedua orang ini bahagia dengan kehidupannya dan
terlindungi selalu.
Dua, tiga bulan berlalu hanya kita berdua yang mengamini rindu dan bertekuk
lutut pada hujan dan kecemasan. Kak, Kau pernah bicara tentang rumah kosong.
Betapa tak ada sesiapa dan sepi. Dan hasrat mencari cara untuk bunuh diri
adalah ritme yang tak pernah absen menyambangi pikiranmu. Setiap kali bertemu
dengamu, aku selali melihat pergelangan tanganmu atau bagian tubuh manapun yang
sekiranya bisa membuatmu mengakhiri hidup, dan tak ada satupun.
Aku merindukannya, Kak. Kau tahu, kan, rasanya dikepung rindu. Entah
apa kabarnya dia di sana. Berkali menghubungi tapi dia hanya membalas satu dua
hari kemudian. Itu masih untung, terkadang satu minggu baru menemukan jawaban.
Kau pun juga mengalaminya, ketika sedang dalam keadaan darurat, Mas Dian tak
berada dekat handphonenya.
Tapi nanti dulu, aku sering membaca chit-chatmu dengan Mas Dian,
agak rutin dan mengalir asik. Aku tak berpikiran apapun atau merasa cemburu
karena ini. Bahkan aku senang jika Kak Anna memiliki teman bicara soal Mas
Hadi. Merelakan sebagian waktumu
teralihkan demi kebahagianmu.
Tapi tahukah, bahwa ini awal mula bagaimana kita
berpisah. Kesibukan dan waktu yang padat membuat kita sulit berkomunikasi. Beberapa
kali melihat postinganmu di akun instagram, kenyataan bahwa aku tahu. Bahwa kau
menjalin hubungan dengan lelaki yang aku simpan namanya di hati, Mas Dian. Ya. Berkali
aku mencoba mengklarifikasinya, tapi jawaban bernada geram yang kuterima. Tidak
mengapa, sungguh ini tak menjadi masalah. Hanya saja atas nama pertemanan
mengapa kau menyembunyikannya dariku? Apa salah jika aku mendengar kabar
bahagia itu dari bibirmu sendiri. Biarlah urusan hati dengan dia menjadi
puing-puing yang akan aku rapihkan sendiri.
Kau berulang kali menolak untuk bertemu, sudah tak
lagi merokok dan pulang malam. Katanya aku membawa hal yang tak baik padanya. Hah.
Tak baik. Oke cukup !
Urusanku dengan kau cukup sampai sini. Sudah tidak
sudi aku ceritakan.
Comments
Post a Comment