Rasanya Kehilangan Teman

Tahun-tahun yang sulit, entah mengapa sejak aku lulus kuliah seolah teman datang dan pergi. punya kepentingan dan tidak. terlebih lagi di dunia kerja, pertemanan hanya sebuah kefanaan yang abadi. mereka datang hanya ketika mereka memiliki kepentingan. Datang dengan penuh keceriaan dan hari-hari penuh dengan canda tawa, suka-duka, berbagai cerita-lah,  pokoknya. Namun saat pemahaman kami tak bisa menyatu maka jangan heran seketika segala media sosial akan hilang tertelan amarah. seolah kisah kemarin sore tak pernah terjadi, seolah segala rasa, karsa dan bahasa yang pernah diluapkan bersama tak memiliki arti.
Aku tak mengerti sebenarnya apa konsep sebuah pertemanan di masa-masa dewasa kini apakah melulu tentang kepentingan? ataukah memang harus dengan kepentingan kita memulai sebuah pertemanan? lalu mengapa harus berlabel pertemanan maka akan berujung sebuah permusuhan. 

Berawal dari keberadaanku sebagai anak baru di kantor ini. 5 bulan setelah aku bekerja aku baru mengenalnya, sebut saja Intan. Pertama kali mengenalnya saat aku penasaran dengan ruangan pojok dekat ruangan kerjaku. Di sana ramai dan orang-orang keluar bersama beberapa paket cake asal bandung. aku pikir siapa yang jualan, aku tengok lah dan ternyata di ruangan itu sudah sepi hanya ada intan sedang membereskan beberapa sisa pesanan. Dia melempar senyum dan akhirnya kami sering berbincang. 

Pada tahun 2015 aku sering menyambangi ruangannya karena awal tahun tak banyak pekerjaan yang dilakukan, pertemuan kami makin sering, cerita ini itu, pertemanan, percintaan, pekerjaan dan lainnya, hingga pada 2016 kami bekerja sama membuat sebuah bisnis, nama yang dipakai juga menggunakan nama kami berdua. semuanya berjalan lancar, hingga aku berkenalan dengan lelaki karena bantuannya, lelaki itu teman SD Intan. makin dekatlah kami berdua karena banyaknya topik pembicaraan kami. 

Aku mengantarnya ke bidan saat tahu kandungannya sunsang, padahal jauh sebelum dia memutuskan untuk ke dokter, aku merekomendasikan ke bidan "Itu" untuk memeriksakan kandungannya. Ketika orang lain yang ngomong dia baru percaya kalau bidan "itu" bagus. Kalau aku yang ngomong, dia mana percaya, mungkin karena aku masih belum menikah kali, ya. 

Perjalanan pertemanan kami makin erat, dia menganggapku sebagai adiknya, begitupun aku (Walau sebenarnya aku takut untuk menganggapnya kakak) , pun dengan bisnis yang kami jalani. pesanan demi pesanan, sejauh apapun pesanan itu dituju, kami lalui berdua. Indramayu, Plumbon, Jamblang, dan lainnya. Tapi itu tak berangsur lama. Intan mulai berubah, dalam penjualan aku maunya dia fokus dalam usaha di 1 brand, brand milik kami. Ini malah dia jualan barang-barang MLM, alhasil penjualan kami merosot tajam. Pelan tapi pasti aku ambil alih instagram toko (Memang awalnya IG punya aku). Tebak, apa yang terjadi, dia murka, marah dan beberapa bulan tak berkomunikasi denganku. aku menganggapnya biasa saja, namanya juga pertemanan ada pasang surutnya. 

Benar saja, 2 bulan tak bertegur sapa dia kembali lagi dengan suasana yang sama. Keadaan kian membaik. Aku juga semakin dekat dengan 2 kawan Intan, Pino dan Megi, ya kami makin dekat. hingga ternyata 2 kawan intan ini bukan orang yang tanpa gosip. Gosipnya tidak tanggung-tanggung. Pino digosipkan menjadi selingkuhan bos, serem deh pokoknya. Aku sih temenan sama siapa aja, jalan sama siapa aja, perkaranya 3 orang ini yang punya waktu buat ngajak aku main atau sekedar makan siang bareng walau kita kantornya udah pindah gedung. Aku merasa bermain dengan mereka membuat teman-teman di kantor pusat menjadi rikuh, entah ini perasaanku atau memang demikian adanya. Ya sudahlah, toh aku tak ikut campur dalam masalah ini, itu masalah mereka dan aku tak mau ikut campur. 

pada tahun 2018 ini, aku dengan ke 3 orang tadi, intan, pino dan megi berencana membuat usaha bersama, awalnya ragu cuma mikirnya ini berempat semoga aja bener. kami berjualan apapun untuk membangun modal, untuk brand yang aku dan teman teman buat. Setelah brand tercipta, barulah membuat produk yang sejak awal kita rencanakan. basreng. ya, sumbangsih terbesarku adalah bagaimana cara memasaknya, sepenuhnya ide aku. Usaha ini berjalan lancar terlebih saat aku dan pacarku ikut menyumbang produk yakni kerupuk rajungan. 

Saat usaha kian gencar, aku jatuh sakit. Harus di rawat di RS dalam beberapa hari, dan setelah operasi aku harus istirahat sampai sebulan di rumah untuk memulihkan bekas operasiku yang rawan luka. Maklum aku terkena wasir, jadi mengharuskan tubuh aku recovery seutuhnya. 
aktivitasku di rumah hanya sekitaran kasur dan kamar mandi. Hape, tivi, hape tivi, Gitu aja terus sampe bosen baru aku tidur.

Berawal dari sinilah kami bertikai, komunikasi yang tak terjaga dan kontak fisik bersama mereka juga bisa dibilang amat sangat jarang membuat kami semakin panas. pengakuan mereka yang mengaku telah paham segalanya ternyata tidak menjamin segalanya mulus. Mereka semua telah berkeluarga tapi tidak menjadi indikator utama dari berkembangnya kedewasaan mereka, padahal itu yang sering mereka ungkit atau beralasan jika tidak bisa hadir dalam rapat, masak, atau berjualan di GOR Bima. hmmm.....

Ya, sejak saat itu kami lebih ke diri aku sendiri, memutuskan untuk mengundurkan diri karena banyaknya pertikaian yang tak kunjung redam, kami sama-sama egois. Dalam membangun usaha, kedekatan hubungan yang pernah terjalin tidaklah menjadi dasar kami akan bertahan lebih lama. Bisnis ya bisnis, temen ya temen. Begitulah kiranya.

Kehilangan teman untuk kesekian kalinya mungkin adalah hal lumrah, tapi yang disayangkan adalah mereka yang pernah hilang itu pernah mengetahui gelap dan terangnya diri ini, ada aib, ada kisah dan segala rasa yang pernah tercurah. Aku tak tahu apa yang membuat keadaan seperti ini menjadi kian memburuk hingga akhirnya kejadian terus berulang.

Komunikasi yang tak sejalan, dan waktu yang kurang bersahabat mungkin adalah titik kesalahannya.
sekian... semoga bisa diambil pelajaran dari ceritaku ini.

see yaaa

Comments

Popular posts from this blog

TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA

Melankoli !

Sedang tebangun dari tidur panjang