Opium 24 (Part 2)

Tak begitu berantakan untuk merencakan hari esok, tapi tampaknya aku masih saja mengeluh akan ketidak sempurnaan hari ini. Meracau, memarahi semua orang yang menghampiri. Ya, aku memang bodoh. Bagaimana tidak, menyia-nyiakan sisa waktu bicara untuk memikirkan penghakiman yang akan terjadi.
Ketidak-khusuanku berlangsung sejak membuka social media, menemukan banyak sekali undangan pernikahan. Konyol, tapi ada perasaan cemburu yang teramat tipis. Mengapa tak sejak dulu saja aku mengnonaktifkan semua social media? Pertanyaannya apakah aku ikhlas. Mungkin saja aku akan menemukan hal lain dengan social media, seperti yang kugeluti sekarang ini. Dan sekarang social media itu menghancurkan pikiranku serta mengambil alih konsentrasiku. Kenapa kekuatan perempuan harus kalah dengan cemburu. Tapi memang begitu adanya, aku memang tidak bisa menepisnya. Mungkin situasi seperti ini akan menurunkan keegoisanku. Mungkin !
Rapat anggota teater kacau karena aku yang malas berargumen, kacau menurutku. Ya, bagiku kacaunya rapat adalah ketika aku tak bisa mengeluarkan pendapat. Ketika ditanya bagaimana pendapatku, aku hanya diam sambil menandaskan kopi Linthong yang ada di hadapanku, kemudian pergi tanpa tanggapan. Apapun itu !
Setelah ini pasti aku akan menghabiskan berbatang rokok dan pulang larut. Aku tak bisa mendaratkan keluh kesah di rumah, di kamar ataupun di kamar mandi. Tak boleh ada masalah yang aku bawa ke rumah. Dewi berulang kali memperingatkanku untuk mencoba membuka topik pembicaraan, biasanya aku selalu melemparkan topik yang kontra dan cara itu berhasil membuat suasana rapat menjadi riuh. Terkadang aku harus mempunyai tingkat konsentrasi yang penuh saat hendak memunculkan obrolan baru.
Masalah dua hari ini menyita banyak energiku, bayangkan saja dalam lelaki bekas pacarku menikah. Lelaki yang lama menambatkan hubungan ataupun hanya sekelebat, itu bukan soal. Menjadi soal adalah mereka turut mengundangku di acara bahagianya. Mereka berbahagia, tapi tidak denganku. Kekanak-kanakan memang, tapi apakah aku harus membohongi hati? Sudah cukup banyak manusia yang aku bohongi, jangan diri sendiri.
Ada perasaan sakit dari dalam dada, dahulu seolah akan berakhir bahagia. Namun yang terjadi adalah kepiluan yang datang bertubi-tubi, siapa sangka cerita manis akan menjadi nanar ketika aku telah beranjak dewasa, ya dewasa. Walau menjadi dewasa masih sebagai cita-cita yang aku rancang, entah sejak kapan aku merancangnya tapi aku berharap secepatnya aku akan dewasa. Demi kopi yang diseduh dan disajikan panas di hadapanku, aku harus menjadi dewasa bersamanya.
Mengendari motor sangat pelan, melewati pertokoan kota yang telah beristirahat, melindas bantalan rel yang masih hangat, berjalan pelan sambil memandangi langit sore kala itu.
Dewi pernah bercerita tentang sebuah kisah percintaan Gandari ibu Kurawa dengan Pandu, yang merelakan jalan hidupnya didipilihkan oleh Bisma, Gandari yang pada akhirnya menikahi Destrarasta yang buta. Pilunya seorang Gandari menerima takdir yang telah digariskan, ternyata sebagai asal mula munculnya dendam antara keturunan Pandu dan Destrarasta, seperti yang tertulis pada kitab jitasabra. Sebagai manusia suka atau tidak akan berjalan di atas nasib yang telah ditentukan, dan tentang bagaimana kita akan menguasai nafsu diri. Dari sana aku belajar, tentang bagaimana menjalani nasib, berusaha boleh saja, bahkan sebuah keharusan, setidaknya Tuhan tidak pernah lelah menjadi sebaik-baiknya hakim.
Aku menutup akun social media, merapihkan sisa masa lalu dan menjejali diri dengan nutrisi baru. Percaya bahwa kesendirian itu tidak selalu buruk. Barangkali Tuhan tengah mempersiapkan keriuhan yang tiada hentinya untukku.
Aku putuskan untuk turut bahagia dihari pernikahannya. Ketika lidah kelu untuk mengucapkan selamat tinggal, hanya jari ini yang bisa membahasakannya lebih banyak. Kepada kekasih yang pernah aku jaga hatinya. Kepada perasaan yang tidak bisa aku ucapkan langsung. Aku berusaha mencari jalan untuk pergi, keluar dari rindu yang tertancap. Ketika aku tak temukan itu saat berulang kali namamu lewat di hadapanku dan tersenyum bahagiaa. Kemarilah, duduk bersamaku dan kita habiskan kopi yang membeku, beku karena dinginnya hatimu. Percayalah, esok aku akan berusaha lagi untuk pergi dan mengikhlaskan segala prahara yang pernah terjadi.



Comments

Popular posts from this blog

TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA

Melankoli !

Sedang tebangun dari tidur panjang