Opium 24 (Part 3)
Impian yang sekedar tulisan.
Opium 24
Berangkat sekitar pukul 8 lewat 30, membawa perbekalan perut dan kantor
tak lupa dengan armada pink yang sudah hampir 4 bulan tak aku rawat. Maklum,
bulan bulan ini aku pekerja tak berpenghasilan. Perubahan peraturan dan akun
membuat penghasilanku tersendat. Ya, mungkin beginilah nasib karyawan honorer
tak pasti. Suatu ketika aku terpikirkan untuk merantau kembali, tapi orang tua
memiliki alas an mengapa aku harus tetap berada di Cirebon. Bukan sebuah
ketetapan, memang semua itu ada di tanganku, tapi terpikirkan kembali bagaimana susahnya
orang tua tanpa aku terlebih lagi melihat kondisi kakakku yang kadang kambuh
sakitnya. Berkali-kali panggilan kerja masuk ke email, aku abaikan kemudian. Ada
perasaan jengah dan bosan seperti biasanya aku akn menghilangkan semua itu
dengan pasti.
Mulai dari panggilan sebagai marketing di sebuah produk elektronik sampai
sebagai konsultan di LSM NGO, hebat bukan? Ya aku harus hebat setelah lulus,
itu cita-citaku. Membentuk karang taruna, mengabdikan diri di konservasi orang
utan di Kalimantan dan memperjuangkan hak-hak perempuan, aku amat berambisi. Dengan
keterbatasan restu orang tua dan akses, aku akhirnya hanya bisa menunjukan
dedikasiku pada organisasi kepemudaan, pada awalnya menyenangkan dan penuh
kekeluargaan, namun lama kelamaan menjadi sarang politik yang membuatku
terpojok. Terlebih lagi pekerjaan intiku berkecimpung di dunia pemerintahan. Meskipun
aku berada di posisi yang terdesak aku bisa mengatasinya dengan beberapa lobi
politik pula. Pendekatan dengan petinggi organisasi dan obrolan diskusi bersama
kawan-kawan di satu lini membuatku “aman”, setidaknya selama aku menjabat di
kementerian pemberdayaan perempuan. Tidak ada kerja organisasi yang nyata
selama aku menjabat, hanya saja lebih menganalisis data yang aku punya dan
sedikit terjun di aktivitas keperempuanan, dan satu lagi, aku menulis jurnal
tentang perempuan di situs jurnal perempuan Indonesia.
Kemudian soal karang taruna di lingkungan rumahku. Belum menemukan titik
temu bagaimana mengakomodir pemuda pemudi yang notabene hidupnya “rusak” karena
pembiaran yang dilakukan masyarakat yang “waras”. Hidup mereka hanya berkutat
dikriminal. Ini bukan hanya sekedar fitnah, seperti fitnahnya sengkuni tentang
keluarga pandawa, bukan. Beberapa kali rumahku kecurian, dan pelakunya sudah
terbukti, mereka. Mabuk-mabukan dan seks bebas, anak di bawah umur yang
menghisap rokok dan jaringan pengedar narkoba yang terselubung, yang sulit
untuk dilakukan pembuktian dan penggrebegan (memang perlu penelusuran dan
penyelidikan mendalam soal narkoba ini namun beberapa warga di sekitarannya memberikan
keterangan demikian). Masalah yang krodit, sementara aku hanya anak perempuan
(dalam hal ini perempuan dianggap lemah dan tak perlu digubris omongannya,
dilingkunganku masih patriarki) yang baru pulang merantau, selama sekolah aku
tak pernah main keluar rumah walau sekedar ngobrol dengan mereka, kata orang
tuaku terlalu berbahaya. Ya, inilah kendalaku saat ingin membentuk karang
taruna. Menurut kesaksian salah satu tetanggaku yang menjadi promotor gerakan
warga, Pak Kus namanya. Beliau berkata bahwa untuk mengajak pemuda di sini
dengan minum dan main domino sepanjang malam, baru setelah itu melakukan
gerakan, misalnya yang telah terlaksana adalah kegiatan 17 agustus dan
kerjabakti yang dilakukan setiap 6 bulan sekali. Aku membicarakan hal ini
dengan orang tua, beliau berkata padaku bahwa ini berbahaya. Tidak bagiku. Bagiku
ini adalah tantangan, mau tidak mau setiap perubahan membutuhkan pengorbanan,
tapi orang tua mana yang menginginkan anaknya dikorbankan untuk nyemplung bersama mereka. Aku tidak bisa
sabar menghadapi situasi lingkungan yang sebenarnya bisa berubah. Dengan banyak
pendekatan dan obrolan ringan. Berbagai teori yang didapat selama kuliah seolah
nihil, situasi social yang seperti ini akan membentuk kejahatan hirarki.
Krodit jika membahas lingkungan di sekitar rumahku. Ya, pendekatan saja
tidaklah cukup, aku juga harus ikut seperti mereka kemudian barulah mereka bisa
menghabiskan waktu untuk mendengan “cekokan” doktrin dariku. Pernah suatu saat
menjelang pemilu presiden, serangan fajar mengganggu aktivitas politik,
beberapa kubu melakukan lobi dengan memberikan sejumlah nominal kepada panitia
dan warga (beberapa saja), aku mengetahui dan melihatnya dengan mata kepalaku
sendiri. Dicegah? Dilaporkan? Yang ada ini sebagai ajang bunuh diriku. Rumahku bisa
dibakar, terror bisa terjadi, aku bisa disetrum dikursi listrik atau
ditodongkan pistol ke arah kepalaku, ini bisa saja terjadi, percayalah. Berlebihan? Tidak. Bukti? Tidak ada bukti, aktivitas dan penghakiman ini amat
terselubung.
Kemudian soal pengabdian di konservasi orang utan Kalimantan, ini hanya
mimpi pepesan kosong. Kenapa? Karena tak ada sedikitpun restu yang aku dapat
dari orang tuaku. Terlampau jauh dan beresiko, mereka hanya tak ingin anaknya
susah, menurut mereka. Inilah kecintaanku, inilah panggilan hatiku. Merawat orang
utan dari keserakahan investor, menyelamatkan beberapa ekor orang utan dari
kebakaran, membantu bayi-bayi orang utan minum susu, memberi mereka buah-buahan
dan meninabobokan mereka dalam kandang yang disebut alam semesta. Mengembalikan
lagi hak-hak mereka sebagai “penjaga hutan” yang sebenarnya. Nasib orang utan
tak jauh berbeda dengan bekantan yang kini banyak kehilangan tempat bermain. Terkatung
katung di pemukiman warga, mencuri makanan warga kemudian tertangkap dan
terkurung. Haknya tidak lebih dari sekedar tawanan rumah. Tawanan rumah warga
yang juga disingkirkan dan tak ada hak atas tanahnya sendiri.
Menurut data dari mongabay “Awal
Juli 2016, IUCN (International Union for
Conservation of Nature)
menetapkan status orangutan kalimantan naik ke level Kritis (Critically Endangered/CR) yang sebelumnya Genting (Endangered/EN). Pil pahit yang mau tak mau harus kita telan
saat merayakan Hari Orangutan Sedunia yang selalu diperingati setiap 19
Agustus. Populasinya masuk ke zona kritis, pendataan yang dilakukan
bahwa jumlah orang utan kalimantan sendiri yang jumlahnya diperkirakan sekitar
54 ribu individu dikelompokkan menjadi tiga anak jenis. Pertama, Pongo pygmaeus
pygmaeus yang berada di utara Sungai Kapuas (Kalimantan Barat) hingga ke timur
laut Sarawak (Malaysia); kedua, Pongo pygmaeus morio yang hidup di Sabah
(Malaysia) hingga ke selatan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur; ketiga, Pongo
pygmaeus wurmbii yang terlihat mulai dari bagian selatan Sungai Kapuas
(Kalimantan Barat) hingga timur Sungai Barito (Kalimantan Tengah).Hal menarik,
orangutan memiliki 97 persen genetik yang hampir sama dengan manusia. Meski
begitu, orangutan tidak memiliki selaput suara yang membuatnya tidak bisa
bicara. Sementara berat otaknya hanya sepertiga dari otak manusia.(mongabay:
Naik Status, Perlindungan Orangutan Kalimantan
dan Habitatnya Harus Serius, 20 agustus 2016).
Ini yang menggugah empatiku, ada hati yang terpanggil,
aku ingin mengabdi, ada atau tanpa penghasilan. Sok suci? Tidak juga, karena
bagiku panggilan jiwa lebih penting ketimbang urusan duniawi yang harus
digapai.
Kenyataan yang terjadi bahwa hari ini aku sedang
menghadapi bertumpuk-tumpuk tugas kantor, faktur, tagihan, kwitansi, dan
beberapa surat masuk yang belum aku catat dibuku surat masuk. Inilah aku hari
ini, dengan segala keterbatasan dan kesempatan, aku akan berusaha barang
sekedar menulis di blog yang jarang pembacanya, yang terpenting dunia tahu
bahwa ada makhluk kecil yang tak bisa menggapai segala mimpinya semasa kuliah.
Selamat kepada segelintir orang yang telah
mencapai mimpinya, yang dapat memberikan dedikasi dengan banyak dukungan, bergembiralah
kalian karena tak banyak orang yang bisa melakukan itu. Percayalah bahwa apa
yang telah dicapai mungkin bisa menjadi impian manusia lain, maka bersyukurlah
yang telah mengkhatamkan mimpinya.
Cirebon, 18 april 2017
Ditulis
ditemani kopi darma, dan suasana yang bahagia di Apin coffe Cirebon.
referensi :
http://www.mongabay.co.id/2016/08/20/naik-status-perlindungan-orangutan-kalimantan-dan-habitatnya-harus-serius/
Comments
Post a Comment