Situs Monyet dan Makam Sunan Kalijaga





Mandiri Untuk Bangkit




"merayakan HUT Kota Cirebon"



 Saat jalan-jalan sore, aku melewati Terminal Harjamukti Cirebon, aku mengambil arah menuju Kuningan. Di tengah-tengah perjalanan aku melihat palang yang bertuliskan Situs Makam Sunan Kalijaga. Aku tertarik dan akhirnya membelokkan motor vespaku menuju tempat yang sudah lama takku kunjungi.
Angin berdesir pelan dan sejuk saat saya memasuki tempat yang dianggap keramat ini. Dulu, situs ini tempat syiar Agama Islam oleh Sunan Kalijaga. Kini, menjadi salah satu objek wisata religi di Kota Cirebon. Makam keramat ini juga semakin ramai ketika hendak memasuki bulan ramadhan, banyak yang hanya sekadar berziarah untuk memohon “Barokah”, ada pula yang bernazar dan berdoa. Untunglah saat aku berkunjung sedang sepi peziarah. Dengan santainya aku tetap menapaki jalan berpaving sambil melihat ke sekitar. Di sekitarnya ditumbuhi pohon-pohon berukuran sangat besar dan tinggi sehingga suasana menjadi sangat segar dan alami. Masih sama seperti lima tahun yang lalu saat aku masih duduk di kelas 6 SD, bedanya hanya pada fasilitas tambahan kamar kecil yang banyak dan bersih. Di sana juga terdapat sebuah warung sederhana yang menjual kebutuhan kita yang hendak berziarah seperti makanan ringan, minuman, kacang, Drigen dan lain sebagainya.
Aku perhatikan, belum terlihat perubahan yang berarti di objek wisata religi ini. Situs yang terdapat “Saudara Tua Kita” yang lebih agresif. Objek wisata  satu-satunya di kota Cirebon yang terdapat kera/monyet. Uniknya lagi monyet ini tak pernah berkurang atau tak pernah lebih, jumlahnya yang tetap membuat monyet ini di juluki monyet keramat.  Mengapa argument ini keluar? Karena secara logika jika kera/monyet ini semakin bertambah maka wilayah Kelurahan Kalijaga Kota Cirebon tentunya akan penuh dengan “Monyet.” Banyak sekali yang turun jika ada peziarah datang, si monyet pasti akan minta kacang atau buah-buahan kepada peziarah. “Yah, arane ge ketek, Nok,” kata si petugas kebersihan di situs ini.


Sumur keramat
 Aku mulai memasuki jalan setapak yang penuh semak belukar untuk menemui sang juru kunci makam. Rumahnya terletak di belakang makam dan Masjid Keramat. Beruntunglah aku dapat langsung bertemu dengan Pak Lilik, begitu sebutan sang Juru Kunci. Perawakannya tinggi dan agak kurus. Dia menuntunku, pertama, ke sumur keramat yang besar yang terletak di samping Masjid yang fungsi utamanya sebagai tempat wudhu para jemaah yang hendak melaksanakan solat lima waktu ataupun solat jumat. Airnya dipercaya dapat membawa barokah dan mukzijat. Sumur keramat ini banyak diburu oleh para peziarah. berkaitan dengan masalah barokah dan mukjizat ini Pak “Kuncen” menjelaskan  “Kita mah di sini tergantung niatnya saja, kalau niatnya baik maka akan mendapat kebaikan. Bila niatnya jahat maka akan mendapat akibatnya pula, percaya atau tidak itu tergantung pada diri masing-masing dan kepercayaan masing-masing. Ada yang berhasil ada juga yang tidak, semua hanya kehendak Allah,” Katanya.
Pintu masuk makam


Selang beberapa saat aku berjalan lagi ke arah pintu makam yang menghadap ke arah selatan. Bangunan yang masih mempertahankan keasliannya. “Kalau banyak direhab, kesan keramatnya udah nggak ada lagi, Nok, bakal ilang. Yang penting kan bersih dan layak,” 
Ujarnya sambil menerawang ke langit-langit. Gapura pintu masuk itu terlihat sangat memprihatinkan, tetapi setelah saya teliti lagi gapura pintu masuk makam itu ternyata masih kokoh dan asli, hanya mungkin warna cat saja yang berbeda dengan aslinya. Pintu itu terbuka perlahan-lahan mungkin 1 meter lebarnya, sempit dan  terdapat ukiran cina klasik yang dipengaruhi budaya cina memberikan kesan kuno. Ruangan yang luas untuk menuju ruang utama makam yang disangga oleh sembilan tiang kayu. Kaki terasa dingin ketika berjalan di atas keramik putih ketika memasuki ruang utama yang juga sempit pintunya, terdapat makam-makam kuno yang tengahnya seperti sebuah rumah kayu yang di dalamnya berisi makam Sunan Kalijaga. Pintu  terbuka jika ada tamu agung yang berkunjung. Jika Pak Presiden serta jajarannya bersedia menziarahi makam alangkah bangganya kami. Pasti Situs ini akan menjadi lebih terkenal dan banyak pengunjungnya.
Ada sesuatu yang mengganjal di hati ini. Jika di sini benar makam/tempat peristirahatan terakhir salah satu walisongo yaitu Sunan Kalijaga. Maka yang di Tempat lain itu siapa??? Dengan penuh keberanian aku bertanya pada Pak Lilik. Beliau tersenyum dan..
“Sunan Kalijaga itu kan termasuk Walisongo yang pada kenyataannya seorang yang alim, kuat agamanya dan sakti mandraguna, memang ada yang tidak percaya kalau di sini terdapat Makam Sunan Kalijaga tetapi menurut sejarah turun-temurun orang tua zaman dulu begitu. Mungkin di sana memang benar, akan tetapi ketika sudah meninggal, lalu muncul lagi di tempat lain demi menyebarkan Agama Islam. Ulama jaman dulu berbeda dengan sekarang, imannya yang membedakan semua itu.” Aku mengangguk paham. Jadi, Sunan kalijaga itu datang karena ingin menyebarkan Agama Islam. Maha Besar Allah.




Pintu makam

Sebelum mengambil gambar, aku meminta izin kepada ahli kubur dan berdoa sejenak. Larut dalam suasana entah mengapa aku meneteskan air mata. Rasanya saya ingin memeluk mama pada saat itu, teringat akan dosa, dan semoga Allah SWT mengampuni semua dosa aku dan orang-orang yang aku sayangi (Amiiien).
Sumur kedua
Aku beranjak dari ruangan itu dan menuju sumur ke dua. Sumur itu berada di luar pagar area masjid dan di buka jika ada yang hendak mengambil airnya.
”Biar tertib, sumur ini mah dibuka kalau ada yang mau minta saja, kalau yang di dalam (sumur yang pertama) sana itu sumurnya lebih besar dan dipake buat wudhu orang,” jelasnya sambil kembali mengunci pintu sumur.  Sumur yang membawa berkah bagi yang mempercayainya. Banyak yang berhasil meminta barokah di tempat ini. Oleh karena itu banyak orang yang merasa mendapat barokah dari tempat ini kemudian mereka menyumbang untuk sarana dan pelestarian situs ini  Bangunan pun masjid  diperbaiki jika hanya mengalami kerusakan, karena keterbatasan biaya.

Bangunan Masjid tampak depan

Menurut juru kunci , Pemerintah kurang memperhatikan situs keramat ini. Sangat ironis, satu-satunya wisata religi yang memiliki keunikan tersendiri harus terabaikan seperti ini, dana didapatkan hanya dari peziarah dan pajak pedagang ketika hari raya. Namun, usaha ini tak sia-sia, dari hasil tersebut dapat sedikit merenovasi bangunan yang rusak walaupun “Alon-alon asal kelakon” yang terpenting keaslian dari tempat bersejarah ini tidak hilang. Tanpa campur tangan dari pemerintah situs ini pun bisa bangkit, harum mewangi dan terdengar hingga keluar kota Cirebon walaupun gaungnya tak senyaring Makam Sunan Gunung Jati. Lebih ironis lagi, Situs ini lebih populer oleh sang “Saudara Tua Kita” (Monyet) ketimbang Makam Sunan Kalijaganya,  “Kepriben kih?!”
Situs ini mandiri tanpa campur tangan pemerintah, berusaha bangkit di tengah perubahan zaman yang semakin menggila. Bersaing dengan objek wisata lain yang lebih diperhatikan Pemerintah dan tempat perbelanjaan sebagai tempat refreshing, maka tidak heran jika Situs ini sedikit terlupakan dan kurang berkembang. Untuk itu, aku menyampaikan kepada pemerintah, mohon untuk lebih memperhatikan situs-situs bersejarah yang dimiliki Kota Cirebon. Siapa lagi kalau bukan kita “Kacung dan Nok Kota Cirebon semua” yang melestarikan dan memperkenalkan kekayaan kebudayaan kita, demi tercapainya Crebon Kota  Pariwisata.

Rosa_oshinJ

Comments

Popular posts from this blog

TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA

Melankoli !

Sedang tebangun dari tidur panjang