Bulan Sabit
Bulan
Sabit
aku
pun semakin menyadari bahwa…
aku
kehilanga…an mu..
dibawah jendela mu aku berdiri..
berharap
engkau mau tuk membukanya…
Lantunan lagu The Rain
diperdengarkan lewat Radio butut itu. Malam yang semakin larut tak mampu
untukku memejamkan mata, Kala itu tepat bulan sabit yang hadir menemani
gelapnya malam buta. Dibukanya jendela angin malam terasa menusuk tulang
sumsum, rasa rindu itu pun datang, terkuak kenangan indah dan pahit kala itu.
Tiba – tiba terdengar gemerisik kaki
melangkah, membuat gadis manis itu terbelalak. Ia pun langsung mencari sumber
suara itu lewat jendela. Kepalanya muncul dari jendela kecil itu. Tapi kenapa tak ada seorang pun disana?? Ia
mulai menutup jendela dan gordennya dan segera melapisi tubuhnya dengan selimut
biru.
Namun terlihat diluar sana , sahabat itu
manunggunya. Sembari memegangi payung, ia menagis. Sementara di peraduan Gadis manis itu ketakutan.
“
akankah ia mau membukakan jendelanya?” Ujar Melita.
Di
dalam kamar Klara bingung ia sangat ingin sekali membuka jendela namun ia
takut, karena tetangga sebelah baru saja berpulang.
“
Ra..Klara…” suara Melita terdengar memanggil.
Klara
semakin merinding dibuatnya. Ia semakin menutup rapat telinganya dengan bantal,
tapi suara itu terus memanggilnya. Penuh keberanian Klara membukakan gorden dan
mengintip. Matanya melotot ketika melihat Melita sahabat lamanya berada dibawah
jendela kamarnya.
“
Melita?!!!.” Klara terperanjat. “ sedang apa kau disini? Kapan kau kembali?.”
Tanya Klara berturut – turut tanpa tahu menunggu jawaban dari Melita.
“
Klara, dengarkan aku dulu,” Melita celingak – celinguk kesekitarnya.
“
Besok aku ingin kita main di kebun belakang, lama tak jumpa aku ingin berbincang
– bincang ria bersamamu.” Ujarnya. Dengan mata berbinar ia mengiyakannya.
“
pasti.. aku pasti datang sobat!!.” Tangannya meraih tangan Melita lewat celah
jendela.
“
Klara!! Apa kau belum tidur, Nak?” Seru Bunda klara mengetuk pintu kamar klara.
Klara dan Melita tersentak. Buru – buru mereka
berdua kembali ke posisi semula melita segera pergi dan Klara kembali tidur,
tanpa menghiraukan pertanyaan Bundanya Klara terlelap.
Keesokan
harinya tanpa memberitahu ingin kemana, Klara pergi ke kebun belakang untuk
menemui Sahabatnya Melita..
Terlihat
Melita duduk diatas batu besar dibawah pohon beringin, sekilas bulu kuduknya
berdiri, merinding, rasa takut menyelinap di hati Klara,
Melita
menoleh,
“
Klara…!!.” Melita memeluk Klara, dan Klara membalasnya,
“
Aku rindu padamu!! Aku rindu bersamamu saat Bulan sabit itu.” Mata Klara
berbinar dan air matapun tumpah, lama mereka berpelukan.
“
Klara.. aku akan slalu merindukanmu…. Kini tiba saatnya aku pergi..”
“
aku pun begitu, tapi kenapa kau harus pergi Lita?!.”
“
maafkan aku Klara aku harus pergi…” Melita bangkit untuk pergi meninggalkan
Klara,,Klara pun bangkit mencegah kepergian Melita,,
“
Lita,, jangan pergi,,, aku menyayangimu,,”
“
Aku pun begitu Klara,, aku pasti akan terus merindukanmu slalu,,” Klara tak mau
melepaskan tangan Melita,,, dan jarak antara mereka kian mengembang,,,diiringi
isak tangis keduanya, terlepaslah genggaman tangan itu,,,, Klara mengejarnya
namun tak jua sampai,,
Rombongan
jenazah melintas, Melita mengikuti dari belakang,,,,
“
Klara,,, aku pasti akan merindukanmu… Jangan lupakan aku Klara…kau sahabat yang
paling aku sayangi, teruslah berkreasi, aku akan memberi inspirasi lewat
anganmu…” Kalimat terakhir itu sangat
mengiris hati Klara,,,Klara tak kuasa menahan tangis,, tangisnya histeris
hingga menarik perhatian,,,,Klara hampir Semaput dibuatnya, sebelum ambruk Bundanya
datang dan segera memeluk anaknya itu,,
“
Sudahlah sayang,,Melita pasti bahagia disana,,” katanya lembut.
“
Mau Bunda temani mengiringi jenazah Melita?.”
Tambah Bundanya, tapi Klara hanya menangis, dan pergi ke kebun balakang,
tempat dimana inspirasi dan khayal muncul,,, bersama Melita, Klara tak bisa
menjadi penulis yang kreatif,, Melita sahabatnya kini telah pergi untuk selama
– lamanya,,, namun tidak dengan kenangan indah memenggal kisah persahabatan
yang sejati,,,,
Kuberjalan terus tanpa henti
Dan diapun kini telah
pergi..kuberdoa di tengah indah dunia,,,
Kuberdoa untuk dia yang ku
rindukan,,,
Memohon untuk tetap tinggal dan
jangan engkau pergi lagi,,,
Berselimut ditengah dingin
dunia,,,berselimut dengan dia yang kurindukan,,,,
Hanya lantunan lagu Nijdi yang terdengar
menemani saat – saat kepergian Melita,,, usai dari makam,,,, Klara termenung di
kebun belakang,,
Melita,,,
Kau tetaplah sahabat sejatiku, yang terbaik yang aku miliki,,
Tiada
yang dapat mengalahkan khayalmu,,, ingin mu,,,inspirasi mu,,
Dan
tak kan ada
yang dapat menandingi kreatifitas mu untuk menulis bersamaku di bawah Bulan
Sabit…
Created
By
Ocha

Comments
Post a Comment