Posts

Penyelam Hujan

          Kepandaianku menerjemahkan kopi tak sehebat dirimu menyelami hujan. Demikian pula dengan kepiawaianku dalam menentukan jalan yang harus ku pilih berbeda denganmu. Wahai lelaki penyelam hujan, tak indahkah nafasku hingga tak cukup aku membuat kenangan yang abadi di hidupmu. Saat kopi kau tandaskan, saat genangan hujan menangkap bayanganmu, pada hujan yang jatuh tak berpola di kota ini kau tuangkan amarah, kemudian dari balik tembok aku mengayuh kenangan yang telah kita ciptakan kemarin. Lelaki penyelam hujan, kau telah genap menyemai luka dari balik matamu. Lantas hujan di mana lagi akan kau dahulukan untuk kau selami.           Dapatkah aku menuang beberapa memori ke dalam cangkir kopimu? Hujan dan kopi tak pernah sia-sia aku hadapkan bersamamu. Pada malam-malam tanpa pulang senja, tanpa ijabah seorang kekasih, kau berada di hadapanku. Lagi, kau pandai menyelami hujan dan meninggalkan ...

Robusta klasik

Image
"Minum saja kopimu, jangan habiskan waktumu dengan bertanya padaku. Rasa pahit, dan juga rasa sakit, punya deadline sendiri" Pemetik Luka

Lelaki Jepara

Opium 24 (Part 1)

Aku merasa tak punya teman. Apa karena temanku banyak sehingga aku tak tahu yang mana sebenarnya teman dekatku.

Sendu tak bernama

Rumah Panggungku hilang

 Oleh : Ocha Rosawati Getaran itu masih terasa ke ubun-ubun Saat rumah dan bangunan itu perlahan hancur Angin berhembus kencang, dan hanya dalam sekejap Rumah panggungku bergemuruh luluh lantak .. dan tak berbentuk lagi.. Sekilas ingatan canda tawa yang dulu ada di rumah panggungku. Patah..   Hancur Di mana keluargaku??? Aku di kini tertindih kesedihan….terkubur kegelisahan Menanti mereka Kampungku yang telah rata itu kini ramai oleh isak tangis.. Berselimut halimun pagi.. Beralaskan tanah berpaku  Aku menunggu Ayah dan Bunda pulang.. Cirebon, 2009

Bukan untuk hari ini

Oleh : Ocha Rosawati Ku tapaki jalan kampus yang ramai hilir mudik. Ku tebari senyuman ketika berpapasan dengan orang yang sekiranya ku kenal. Hari ini hari rabu, bukan hari yang menguntungkan bagiku. Ada sesuatu yang mengerikan. Tanggal ini juga sudah terlalu kolot. Jalan yang becek membuatku terpaksa sedikit mengangkat rok hitam yang sudah lima hari tak ku cuci tapi ya sudahlah, bukan keputusan yang buruk untuk masalah kostum, yang penting tidak berubah warna dan tidak berbau. Kuliah dimulai pukul 13.30 kali ini harus tanpa mengeluh. “Kalau kuliah ya memang begitu.” Ingat kata ibu ketika membalas pesan singkatku. Menyebrangi jalan dank u masuki gerbang fakultas tekhnik yang juga gerbang jurusan politik. Jalanan ini begitu sepi, yang biasanya ramai dengan hilir mudik motor dan mobil mahasiswa dan sepertinya sekarang sedang libur. Cleaning service yang nongkrong sambil minum kopi dalam plastic di parkiran menyambutku dengan senyuman. Ku taksir umurnya masih 19 sama seperti Mario, s...