Bukan untuk hari ini
Oleh : Ocha Rosawati
Ku
tapaki jalan kampus yang ramai hilir mudik. Ku tebari senyuman ketika
berpapasan dengan orang yang sekiranya ku kenal. Hari ini hari rabu, bukan hari
yang menguntungkan bagiku. Ada sesuatu yang mengerikan. Tanggal ini juga sudah
terlalu kolot. Jalan yang becek membuatku terpaksa sedikit mengangkat rok hitam
yang sudah lima hari tak ku cuci tapi ya sudahlah, bukan keputusan yang buruk untuk
masalah kostum, yang penting tidak berubah warna dan tidak berbau. Kuliah
dimulai pukul 13.30 kali ini harus tanpa mengeluh. “Kalau kuliah ya memang
begitu.” Ingat kata ibu ketika membalas pesan singkatku. Menyebrangi jalan dank
u masuki gerbang fakultas tekhnik yang juga gerbang jurusan politik. Jalanan
ini begitu sepi, yang biasanya ramai dengan hilir mudik motor dan mobil
mahasiswa dan sepertinya sekarang sedang libur. Cleaning service yang nongkrong sambil minum kopi dalam plastic di
parkiran menyambutku dengan senyuman. Ku taksir umurnya masih 19 sama seperti Mario,
sayangnya mereka tidak mempunyai tempat untuk duduk bersama kami di kelas.
Memasuki ruangan berukuran 4x7 di
lantai 2 gedung ini, aku disuguhkan dengan pemandangan yang miris, jam kuliah
hampir saja dimulai tetapi di dalam kelas hanya ada aku, Egi, dan Dede. Dua
lelaki yang rajin dan mengabadikan ketepatan waktu dan semoga itu bisa
konsisten. “Pak Tobirin belum masuk?” tanyaku pada Dede yang kebetulan melihat
kedatanganku. “Belum, anak-anaknya juga belum pada masuk. Si Ririn sih kemana?
Biasanya bareng?” tanyanya lagi, aku hanya menggeleng tak tahu. Setelah 15
menit hanya baru ada sekitar 30 mahasiswa dari jumlah 76 mahasiswa jurusan
Administrasi negara yang hadir. Kemana mereka semua? Aku asik dengan novel, Egi
sibuk dengan perbincangannya dengan Dede, dan yang lain entahlah mereka
meributkan apa. “Saya pesen satu yang original yah! Ga mau yang embel-embel.”
Seru temanku yang sedang menelpon.”Emang pada kemana sih bocah-bocah?” Dede
cuma mengangkat bahu.aku dengar dari obrolan beberapa temanku di belakang,
ternyata 65% tidak masuk karena banyak yang mudik dan belanja ke Jogja dan
Bandung. “Alamak!! Mengorbankan kuliah hanya karena belanja? Macam mana pula!”
Sembur Devian. Aku mulai terkantuk, suasana kota yang mendung dan kipas angin
yang sepoi-sepoi menina bobokanku.
Waktu sepertinya enggan pergi dari
hari ini, begitu menjenuhkan, begitu memuakkan. Entahlah. Sampai-sampai rasanya
ingin membanting semua kursi dan memecahkan fasilitas yang ada. Mengapa aku
membayangkan seanarkis itu? Yah apa lagi kalau bukan karena muak dengan keadaan
kelas yang mahasiswanya simpang siur. Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka
semua, mengapa mementingkan urusan kesenangan ketimbang kuliah. Mereka
memandang ini sesuatu yang lumrah. “Ya Refreshing dong sekali-kali.” “What?
Refreshing yang seperti apa lagi? Kita kuliah di luar kota saja sudah
itung-itung refreshing dari tanah kelahiran.” “Ya udah lah Mia, yang pentingkan
mereka nggak ganggu kamu dan mereka nggak minta uang sama kamu ini, kenapa kamu
yang bawel?” sergahan salah seorang teman membuatku makin geram sekaligus
prihatin. Ini bukan soal punya uang atau tidak dan bukan pula soal tidak
menganggu aku atau tidak, melainkan kepercayaan orang tua itu amat sangat
berharga.
Cuaca yang kurang bersahabat ini
menyebabkan para mahasiswa terindikasi berbagai penyakit. Mulai dari penyakit
flu, batuk, demam, tifus, maag, bahkan penyakit galau. Aku juga melihat
semangat dari aktifis-aktifis kampus yang masih terus memperjuangkan yang
namanya revolusi dan aku sendiri masih tenang saja menikmati musim yang
pancaroba ini. Kelas simpang siur keramaiannya, pun kampus sepi tanpa kegiatan.
Ku ayunkan kaki untuk pulang ke kostan yang masih sepi, beberapa teman belum
juga pulang dari touring shoppingnya. Resiko tidak punya kocek adalah melamun di kostan menunggu oleh-oleh. Bagaimana bisa
ikut, sebulan saja aku hanya dijatah lima ratus ribu, untuk makan saja aku
harus perhitungkan lagi makanya aku lebih nyaman memasak nasi ketimbang sehari
harus mengeluarkan Rp 10.000 untuk 2 bungkus nasi rames. Membanting tubuh ke
kasur dan menikmati sepoian angin dari kipas manual yang ku ayunkan. Aku baru
ingat, uangku menipis di ATM. “Besok makannya sama nasi kecap aja deh,” kataku
sambil membuang dompet ke kolong ranjang. Aku masih ingat ketika ayah menghutang
di bank untuk keperluan kuliahku, sampai sekarang saja masih belum lunas,
kasian ayah yang rela berkorban untuk anaknya yang durhaka ini.
“Ke jogja udah, bulan depan kemana
yah? Kapan-kapan kamu harus ikut, Mi,” Samber Linda teman sekosanku yang baru
pulang dari jogja dengan belanjaan yang memenuhi lantai, aku hanya tersenyum
menanggapinya. “Eh aku mau itu, yang warna biru, tolong ambilin dong, Mi.”
“Yang mana? Ini?” tanyaku sambil menunjukkan tas biru ransel biru laut, Ririn
mengangguk. Aku hanya bisa menonton kesibukan mereka dan menggelengkan kepala.
“Kamu aku kasih gantungan kunci aja yah, Mi?” “ya sudah terserah kamu, kudunya
lebih dari itu, kan aku tanda tanganin absen kamu.” Aku Cuma cengengesan
berharap mau berbagi kaos. Lama-lama di ruang tamu aku semakin panas, terang
saja mereka berdua klop sama-sama senang belanja dan memang keadaan orang
tuanya pun jauh lebih dari mampu. Ayahku Pegawai Negeri Sipil golongan 2A dan
Ibuku hanya Ibu rumah tangga, sedangkan ayah Linda seorang Pimpinan Swalayan
terbesar di kotanya dan ibunya adalah seorang akuntan public. Aku sadar akan
keterbatasanku, tapi aku cukup senang dan bangga karena jika aku berada
diposisi Linda, pastilah aku jadi lupa diri. Senang foya-foya dan mungkin aku
akan sering bolos karena mementingkan jalan-jalan. Menurut penuturan
teman-teman aku terlalu irit dan terlalu perhitungan. Namun, itulah keadaanku
saat ini. Kuliahku, mulai harus lebih gas pol
pasalnya 2 hari lagi Uas menyambangi kampus kami. Dan sat-saat seperti ini
adalah saat yang tepat mencari materi dan catatan kawan yang rajin hadir
kuliah. Kelas kembali sesak dan panas, kuliah terakhir pengantar Ilmu Politik
banyak sekali yang berebutan meminta materi dari Dosen pengampu kami yang agung
baiknya.
Baiknya aku memilih pulang ketimbang
berlama-lama di sini. Banyak sekali ajakan berlibur, ada yang mengajak ke
Kebumen, Jogja, Semarang , dan bahkan Malang. Aku tak sanggup menolak ajakan
teman-teman. “Ayo lah Mia, kapan lagi kita liburan bareng?” Ujar si Cantik
Deccy. Aku menggeleng “ Ntar kalo aku jadi rektor Unsoed!!” “Perkaranya kapan?”
tanyanya lagi sambil mulai menggeret kopernya, “Ya entar kalo rektor sekarang
tumbang!” aku cekikikan sendiri dan meninggalkan Deccy yang sudah siap-siap
dengan koper pinknya.
Aku
memutuskan pulang dengan menggunakan kereta ekonomi Progo, 4 jam saja sudah
kupijakkan kaki di kota yang aduhai panasnya ini. Menunggu di pintu keluar,
menanti ayahku yang gagah. Dari kejauhan kulihat rambutnya yang kian memutih
serta badannya yang mulai kurus. Oh ayah, maafkan anakmu yang belum sempat
membahagiakanmu. Akan kugadai rambutmu yang memutih dengan prestasiku kelak.
Aku janji ayah!! Ku cium tangannya yang hangat, ditangannya tergambarkan keras
lika-liku kehidupannya, garis matanya menggambarkan kisah yang tak indah yang
ia lalui, bahunya yang tak lagi sekuat dahulu menggambarkan betapa menderitanya
memikul beban kami. Akan ku bahagiakanmu ayah! “Kamu sudah makan belum? Kemarin
ayah liat kamu di tivi lagi demo.” “Udah, Yah tadi sebelum berangkat. Oh yang
itu, Mia baru sekali kok yah.” Aku menunduk lesu, baru saja aku berjanji aku
sudah mengecewakannya lagi. Ayah menyalakan mobil carry tahun 85-nya saksi bisu
kisah cinta keluarga kami. “Ayah nggak mau sampai kenapa-napa, kan kalo anarkis
terus kamu celaka atau masuk kantor polisi, siapa tanggung jawab?!” “Iya, Yah
maaf, nggak lagi-lagi deh.” Ku tatap ayahku yang terhebat, aku merasa bersalah
semakin ku tatap semakin aku merasa sangat bersalah. Esok pagi akan ku masakkan
makanan kesukaanmu, aku akan memijat ayah ketika lelah pulang dari kantor, akan
ku cuci baju dan menyetrikakan bajumu.
Ibu menyambutku, ku cium lagi
tangannya ku cium pipinya yang mulai
keriput. “jam berapa dari sana terus dianterin siapa ke stasiunnya, Teh?” Tanya
ibu sambil mulai kembali dengan jahitannya, “Kereta datengnya ngaret jadi jam
setengah 10 baru berangkat, di anterin sama cipto mah, yang orang bekasi itu
loh,” “ Itu kain batik mau dibikin apa lagi mah?” sambungku sambil meneguk air
dingin. “Buat Ibu, Teteh mau? Ibu mau bikin baju terusan.” Jawabnya sambil
meneruskan mengesom benang. Tak
pernah lelah matanya menatap jarum jahit yang kecil dan kain batik pekalongan
yang biasa jadi buah tangan kerabat dari pekalongan. Ku pandangi mereka satu
per satu, ku dalami kisah yang pernah mereka ceritakan padaku, ku hayati perjuangannya
membesarkan aku, Mba Nur, dan Ade Firman. “Kamu nggak usah ikutan demo yah,
Teh. Ibu takut.” Aku tersenyum dan mengangguk. “Kuliah saja yang rajin, Cuma
kamu harapan Ayah, lihat Mba Nur udah gagal, ayah akui itu. Nah Teteh Mia yang
sehat jangan gagal. Firman masih kecil, belum ngerti apa-apa.” Aku menunduk dan
mulai sesak dada ini dengan banyaknya kekufuranku selama ini. “Teteh beruntung
bisa menyelesaikan sekolah dan sekarang bisa kuliah sedangkan Mba kamu udah nggak
bisa. Ilmu yang kamu dapatkan bukan hanya untuk hari ini. Ibu nggak menuntut
apa-apa karena pinter buat Mia, bodoh juga buat Mia, dan ibu nyekolahin Mia
jauh-jauh supaya Mia nggak kayak Ayah sama Ibu, supaya nggak dihina orang,
supaya jadi orang sukses.” Airmata ini mulai luber dari pelupuknya. Pedih
sekali mendengar pengakuan itu dari kedua orang tuaku. Ingat aku yang pernah
bolos kuliah, aku yang sering membabi buta ketika memasuki swalayan, aku yang
sering berbohong karena sering pulang. Aku selalu iri dengan teman-teman yang
sering plesiran tidak memikirkan
bagaimana susahnya orang tua membiayai kuliahku hingga semester 2 ini, tanpa
beasiswa tanpa bantuan saudara. Lalu apa lagi yang aku keluhkan? Ku perhatikan
kelopak mata ayah yang kian hari kian menghitam, ayah yang belum pernah melihat
dosa anaknya di tanah perantauan justru tidur tenang di kasur.
“Sudah
sana tidur!” teguran ibu membangunkanku dari lamunan. “Belum ngantuk, Bu, masih
mau ngobrol.” Aku mengeluarkan permen dari kantung dan menikmati manisnya. Aku
bersandar di meja tua warisan dari nenek. ingin kembali mengarungi
lamunan-lamunan yang sempat terpotong. Ku perhatikan tangan ibu yang sedang
menjahit jelujur kain batiknya, sudah berpuluh-puluh kali ibu tertusuk jarum
itu tapi dia tak pernah lelah menjalani titah hatinya. Sedangkan aku, mudah
sekali jatuh mental ketika mendapat cacian, aku berpaling ketika pemandangan
sudah tak lagi indah. Terjangan badai pendapat menimpaliku yang tak mempunyai
apa-apa, aku tak kuat. Ibu, satu gambaran pahit kehidupan yang Beliau lalui,
rupanya belum juga membuatku sadar akan artinya ilmu yang ku dapat amat sangat
berharga. Kesabaran dan keuletan Ibu belum juga meruntuhkan keegoisanku. Tengok
ayah, tangannya yang kasar, rambutnya yang memutih dan kantung mata yang mulai
terlihat belum juga membuatku semangat dalam langkah kaki yang tiada pasti.
Pundaknya yang kian melemah, dahulu sering kujadikan pijakan untuk mengambil
layangan di pohon jambu, Kaki yang kian kurus, dahulu sering dijadikan
penyandar motor ketika mengojeg, dan
kumisnya yang kian rontok dan memutih, dahulu sering aku mainkan karena saking
terlihat galak. Ku ambil air wudhu dan bergegas solah hajat, ku pandangi
keduanya dan aku dalami keduanya, maka semakin merasa aku belum cukup banyak
berbakti. Aku berjanji dan aku bersumpah, tak ada lagi airmata yang akan
menetes di pipi mu, Ayah Ibu. Tak akan lagi kecewa menyelimuti pandanganmu, tak
akan lagi aku durhakaimu! Ini janjiku, doakan aku ayah ibu karena badai di
tanah perantauan belum lagi sendu menantangku.
Comments
Post a Comment