Sendu tak bernama




Aku tak tahu perasaan sendu macam apa yang sedang ku derita. Perasaan ini terus merasa sepi di tengah keramaian. Hanya sekadar keluar rumah untuk mencari semangat baru saja seperti tak ada kekuatan. Lalu kemana diriku yang selalu ingin mencari dan bercerita tentang indahnya dongeng pangeran kangkung.              
Pagi terus terasa sama, begitu pun siang, seolah berlalu tanpa sisa rindu.
Senja menjadi terbata bata, malam yang telah lancang mengakhiri hari yang belum usai. Aku telah menghianati waktu. Menjadi seonggok duka yang membusuk, tersesat dalam keramaian. Aku tak bisa lagi menyisakan rindu.
Kemana ini harus bermuara. Terbenam oleh asap kendaraan, terkikis oleh kertas setoran dan tak bisa lagi berencana.
Kemana lagi harus aku larungkan duka yang datang bertubi tubi.

Mereka berkata jalan masih terlalu panjang. Namun apa yang harus aku lakukan di antara jalan yang masih panjang ini. Tidak ada sesiapa yang bisa menemani menempuh jalan meniti rindu.
Aku binatang jalang, yang menjumpai masalah tak terpecah.
Ghiroh tak lagi tersadar. Bahkan luasnya alam ini seolah tak berlangit.

Beribu cinta telah berpulang pada muara. Beribu air mata telah tumpah dan tak pernah kering.
Gagahnya pertokoan menjadi begitu bising. Menjadi kudapan malam sepi dan dingin.
Mah, entah sendu apa yang sedang menimpaku. Bolehkah aku tidur di pangkuanmu dan menceritakan kesenduanku.
Pa, pulanglah pada anak perempuan semata wayangmu. Ketika berita tentang kehilangan telah memudar, mohon pulanglah padaku.
Apa yang harus kuungkapkan selain sendu luka, duka yang membusuk.
Rindu telah menghianati kisah. Kasihanilah perempuan yang ditimpa sendu bertubi tubi ini.

Kembali lah Ma, Pa, agar sendu yang tak ku kenal ini lenyap. Aku pun ingin hidup dan menghidupi.
kembalilah.


Comments

Popular posts from this blog

TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA

Melankoli !

Sedang tebangun dari tidur panjang