Bawa aku pergi, Waktu.
Seiiring waktu membawaku lari kehidupan yang kelabu. sayangnya kalau boleh melawan aku tak bisa memungkiri ini pulalah yang aku inginkan.
aku tahu apa yang aku lakukan kelak. aku hanya ruang tanpa daya, seekor kutu yang kapan saja bisa mati terlilit, tertindih dan mungkin saja terbakar oleh api. hingga kini aku saja tak tahu akhir jalanku seperti apa.
bukannya aku ingin memaerkan kegalauan, tapi notabene aku menebar kegalauan dan lagi lagi rasa kasihan.
entah bagaimana daun jatuh hati pada embun yang dingin pucat dan amis baunya. saat luka di pucuk tersentuh dinginnya, ia merampas pandangan daun yang makin sendu.
aku tak tahu mengapa tikus begitu mencintai tempat sampah padahal kotor dan bau, membuat tikus makin menjijikkan.
aku pun tak tahu mengapa harus dengan kematian, kita mengetahui siapa sebenarnya orang yang kita cintai.
aku juga tak mengerti, mengapa aku terobsesi kepada kematian, padahal kematian tak memiliki standarisasi waktu, mereka datang tanpa harus mengetahui jam brapa saat ini. aah. utopis!
lalu kemudian sajak cinta itu pecah dan menaburkan diri di atas gundukan tanah. "aku cinta padamu"
lalu apa arti hidup ini jika semuanya baru bisa mencintai ketika mereka kehilangan??!!
moral macam apa yang mereka tawarkan?
My dear,
andai kamu dapat melihat lilin kecil itu mulai
meredup dan pergi dengan damai meninggalkan kegelapan.
tapi itu berbeda denganmu sayangku.
hingga masalalu itu membawaku kepada
hingga masalalu itu membawaku kepada
obsesi pada kematian,
mungkin aku akan merasakan cinta ketika aku meninggal
dan aku akan merasa semua orang kehilanganku. ya.
bukankah itu harapanmu dan itu jadi
bukankah itu harapanmu dan itu jadi
harapanku juga.
my dear... Indra.
apa yang kau dengar saat ini bukanlah suara meredupnya lilin, bukan pula kepakan sayap kupu-kupu yang tipis dan menebarkan anai-anai di udara. tapi hanya suara kepiluan seorang gadis yang ditinggal mati kekasihnya.
my dear... Indra.
apa yang kau dengar saat ini bukanlah suara meredupnya lilin, bukan pula kepakan sayap kupu-kupu yang tipis dan menebarkan anai-anai di udara. tapi hanya suara kepiluan seorang gadis yang ditinggal mati kekasihnya.
siluet senja punah, hingga kini aku masih memohon, jangan tinggalkan diri tanpa daya ini. bahkan bayanganku pun tak ingin berlama-lama menemani setiap terang yang ku dapatkan.
masih bisakah aku berdoa dalam kekacauan otakku yang dingin? seperti udara yang meluncur, aku berharap doaku dapat melurcur inda ke ruang singgahsana Tuhan yang Maha Agung.
waktu, bawa aku lari, culik aku, bantu aku mencari cara untuk merajam diri ini.
selemah sinar senja, sepilunya hujan..
semoga sakit hati ini mati dan padam.

Comments
Post a Comment