Terik Keramaian
Oleh : Ocha
Waktu terik itu, kusempatkan mencicipi beberapa kisah populer.
Nuansa potret klasik, keramaian yang palsu ala perut terbakar.
Memojokkan rasa lapar dan membabat habis kegelisahan.
Menunggu adalah sebuah daya yang selalu aku lakukan,
Sementara kenangan terus mengalir tanpa permisi.
Entah dari mana datangnya cecumbu itu,
saat luka tak urung kering.
Aku,
Gelap tergeletak dalam lagu cinta yang cengeng.
sebelah kananku tak ada sesiapa,
tak ada tangan yang bisa kugenggam lama.
tak ada cerita yang dapat kutukar.
kuyakinkan.
menggapai udara di samping kananku.
Namunku, tak ada sesiapa di sini.
hanya udara kosong yang memnuhi keramaian.
ah, sudah biarlah tempat ini tetap sepi.
sementara keramaian kerap memuncak tanpa bisa untuk membuka mata.
Biarlah perempuan gempul ini bersama detak nadinya yang lemah,
bersama gemuruh harapan yang makin tertinggalkan.

Comments
Post a Comment