Saya Telah Mati
Oleh
: Rosawati
Intelek,
saya terlalu intelek. Itu yang mereka utarakan sambil terus mengisap batang
rokok yang aromanya lebih busuk dari sampah. Menurut saya itu hanya ungkapan
umum, toh mereka orang berpendidikan seharusnya tak asing dengan istilah itu.
Menganggap
ocehannya adalah kentut biasa merupakan langkah yang baik agar suasana tidak
bertambah panas. Saya dituntut berkata seronoh. Saya dituntut memahami
perbendaharaan kata mereka. Bagi saya itu amat bodoh ! kenapa harus saya yang
berpikir? Apa mereka hanya ingin disuapi?
Saya
memang liar dan belum berbahaya selama masih ada tali kekang menggeliat di
ketiak. Tali yang bernama jabatan, tali yang bernama tanggung jawab. Untuk kali
ini kalian selamat. Sampai gagap saya menjelaskan maksud dari perkataan saya.
Hingga liur berhamburan seperti anjing kepanasan saya menjelaskannya pada
mereka. Saya yang terlalu pintar atau mereka yang memang tolol? Entahlah, saya
hanya terus menghisap batang rokok yang membasi.
Lagi
saya mati-matian mengucapkan kata yang dapat mereka pahami, tapi ternyata
gagal. Forum kembali ricuh dengan bualan yang mereka sebut “Sok intelek !”
“Ini
bukan rapat dewan ! kita semua nggak paham !”
Hah,
kita semua? Kalian semua atau hanya anda yang berbicara seperti itu. Moderator
seksi kemudian menengahi dan mencoba mencerna kembali kata-kata saya barusan.
Ternyata hasilnya lumayan. Ini yang dia katakan kita semua? Saya hanya
tersenyum mengejek.
Gerimis
senja itu masih tergambar jelas di langit Purwokerto, lampu jalan terlihat
lebih suram dari biasanya. Seperti video klip yang pernah saya idolakan tahun
80-an, sambil memegangi payung dan menghisap rokok sebagai pengganti pelukan.
Untuk
apa saya berada di sini terlalu lama kalau memang tak mempunyai tanggung jawab.
Tanggung jawab? Skeptis memaknai tanggung jawab dalam posisi genting seperti
saat ini. Tak ada harganya !
Dari
jauh terlihat si hitam sedang mendinginkan suasana. Senyumnya yang khas dan
semua orang tahu itu. Kumis yang melintang serta kulit yang luar biasa legam
menjadi pemanis saat ia tertawa.
Tak
ada yang terang-terangan membela saya di ruangan itu. Tapi bukan berarti saya
tak punya teman. Saya punya banyak teman
yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk membuat saya terlihat hebat. Sayangnya
bukan itu yang saya inginkan. Saya hanya ingin mereka sebagai penerjemah bahasa
ilmiahku. Hanya itu. Ketimbang diolok saya memutuskan meminggirkan diri dan membuka
beberapa draft tugas akhir. Walau bukan saatnya, tapi saya rasa ini alternatif
terbaik saat suara kecil ini tak diperdengarkan lagi. Na’as sekali saya ini.
Teman
pendukungku menghampiri sambil memegangi selangkangannya. Sambil menyerobot
rokok yang hanya tinggal satu batang dia mencaci.
“Brengsek
banget tu si Adli ! Bowo juga goblok, kalau nggak ada Adli mana mungkin tu dia
bisa ngebacot kayak gitu !”
Saya
hanya tersenyum sinis.
“Jangan
berkoar di sini bro ! di dalem kamu mingkem aja kayak curut !”
Dia
tersipu dan mencoba berkelit.
“Keep
calm coy ! kasian mahasiswa baru !”
“Heh?
Kasian? Kasian apa kamu nggak berani !”
Tak
memperdulikan kicauannya saya kembali melanjutkan membaca. Ini langkah yang
efektif untuk membuatnya mati kutu.
Setelah
bosan, saya tinggalkan teman itu sendiri. Gerimis mampu mengkais masa-masa
berjaya dalam ruang itu. Saya mengakui ada kerinduan di ruang kosong hati ini.
Rindu itu bernama kebersamaan. Saya merasa sendiri. Saya merasa ini tak cukup
adil. Bukanlah seorang yang cengeng saat rindu mulai meletus. Seperti gerimis
yang tak henti mendera, saya juga berhak untuk tak berhenti untuk tetapi
berdiri. Salah saya saat memilih jabatan ini, namun salah itu tak menjadikan
saya untuk menyesali apa yang sudah saya pilih kala itu. Pengalaman saya dalam
mengantarkan kejayaan organisasi masalalu tak cukup untuk modalku menyetir
ruang itu dalam kondisi yang tenang. Mengajak mereka untuk bepikir ternyata
lebih sulit ketimbang menumbuhkan birahi seorang presiden !
Mencoba
menganalogikannya secara sederhana. Ternyata lakon saya ini tak berarti. saya
terlalu intelek. Saya terlalu ilmiah. Saya bingung harus dengan apalagi saya
menjelaskannya.
Beberapa
peserta di ruangan itu mengkonstrukkan saya sebagai orang yang menjatuhkan.
Orang yang sombong dan berlagak sok liar. Halah, mereka tak kenal saya jadi tak
perlu saya cecar mereka dengan kata-kata yang sama pula. Apa bedanya saya
dengan mereka jika demikian. Mahasiswa baru terlalu banyak dijejali ungkapan
kebencian terhadap orang-orang pembesar organisasi ini. Tidak diberikan
referensi lain untuk mereka mengenal saya dan orang-orang yang berada
berjajaran dengan saya sebagai dewan penasehat.
Seolah
sampah. Saya memasuki ruangan dan mematikan rokok yang hampir habis.
“Jangan
teriak di belakang kalau anda tidak bisa memahami kita!”
Kalimat
awal saat saya masuk dan ruangan mendadak sepi padahal terdapat sekitar 45
pasang telinga di sini.
“Sampai
forum ini selesai tolong jaga ucapan anda, Bung ! setelah itu baru bisa kita ribut di luar dengan otak
separuhmu itu !” tanggapan sinis saya rupanya melahirkan banyak kericuhan. Adli
berjalan ke hadapan. Menggebrak meja kekuasaan dan mengacungkan telunjuk ke muka
saya.
“Ini
tak akan berlangsung lama ! perempuan liar !” ujarnya.
“Tak
perlu saya repot-repot mendompleng pemahaman anda, toh saya yakin semua orang
di ruangan ini sudah tercuci otaknya dengan bualan anda, Bung Adli ! saya minta
anda kembali ke tempat duduk agar forum ini kembali berjalan.”
Biadab
!
Perdebatan
panas membuat ruangan kecil yang tanpa pendingin ini semakin sumpek. Saya tak
pernah menginginkan malam ini selesai dengan kefasisan. Biarkan pembual itu
berceloteh.
Picingkan
mata. Saya menoleh kepada jajaran teman yang sedari tadi justru berteriak di belakang.
Luar biasa sendirinya saya malam ini. Saya telah mati dalam ruangan ini.
Membisu di meja kebesaran. Menuliskan keputusan yang ternyata bukan sama sekali
keinginan semua orang dalam ruangan ini. Hanya dengan jejak-jejak kejayaan
masalalu, saya ikhlaskan para ABG ini mengambil tahta dewan penasehat.
Saya
keluar dari ruangan. Duduk berjongkok di tengah gerimis dan memandangi bulan
sepotong di langit Purwokerto. Langit ini warnanya begitu gelap dari lampu
jalanan, biarlah lampu jalanan melakukan tugasnya mengganti terang matahari
sampai saatnya tiba.
Rasanya
saya telah cukup lelah menjadikan organisasi ini berada pada kebiasaannya. Saya
gagal kali ini. 5 orang temanku menatap dari kejauhan.
“Keputusan
yang bijak. Biar mereka rasakan bila berada di posisimu saat ini.”
Saya
memang terlalu intelek dan terlalu ilmiah. Namun inilah tugas, inilah
kewajiban. Bukan hanya sekedar bertanggung jawab untuk memahami mereka, mereka
juga seharusnya memahami geliat keras saya saat mencoba membuat mereka paham.
Menikmati
jejak-jejak masalalu yang saya torehkan pada lembar-lembar catatan ini. Agaknya
tak membuat mereka mau berjalan bersama saya. Apa lagi yang bisa saya katakan.
Mereka menjabat tangan saya terakhir kali. Memasang muka munafik.
Bersenang-senanglah dengan apa yang kalian dapatkan. Lihatlah kalian yang hanya
bisa menumpang pada kejayaan yang pernah ada tanpa pernah tahu memulainya dari
awal.
Teman
sejawat hanya bisa menjadi teman. Seolah renta dengan polemik yang ada,
mematahkan stigma saya sebagai perempuan liar yang menjadi dewan penasehat. Tak
berusaha menjelaskan mengapa mereka menempatkan saya pada posisi yang penuh
dengan krisis kepercayaan. Mereka seolah sedang mengolah konflik yang ada
menjadi sebuah penganan renyah, kemudian gagal dan akhirnya menyalahkan saya.
“Selalu
ada ruang untuk menangis, menangislah Teffi.” Senior merangkul erat bahu ini.
“Tidak
ada waktu untuk menangisi hal yang tidak patut.”
“Fi,
kita sudah mencoba tapi ruangan itu terlalu pekat dengan orang-orang yang iri
denganmu.”
Faktanya
saya tak pernah melihat kalian mencoba. Sebatas untuk meredam emosi saja kalian
tak bisa. Organisasi ini telah terjamah oleh tangan pembual dan orang yang haus
kekuasaan. Yang sakit hatinya telah mati, mungkin. Waktu telah menghakimi saya
dengan sangat kejam. Segala pertahanan telah saya luapkan. Tanpa sadar saya
telah benar-benar mati di ruangan itu.
Bibit-bibit
yang pernah saya tuai telah rusak oleh mereka. Seorang diri saya
mempertahankannya. Untuk apalagi saya bertahan saat kekuatan mulai membisu.
Saya hanya bercengkrama tanpa mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Berusaha meringankan segalanya walau berat.
“Saya
titip organisasi tua ini sama kamu, Yu.”
Ayu
hanya menatap saya dengan tatapan yang menurut saya datar.
“Sebisa
mungkin Ayu lakukan, Kak Teffi.”
Pemutihan
dari orang-orang liar. Itu yang saya dengar saat mengikhlaskan semuanya.
Dengarlah kalian, dua kata selamat tinggal telah banyak yang dikatakan oleh
teman sejawatku kepada organisasi tua ini. Hanya saya dan 5 orang teman saya
yang hadir masih bertahan dan tetap mencintai organisasi renta ini, seakan
masih patut dipertahankan.
Mungkin
kesalahan kami telah memupuk keidealisan, seia mempertahankan kultur
kekeluargaan yang hanya itu-itu saja. Saling tunjuk saat kami masih
kekanak-kanakan. Hal yang kami lakukan sekarang hanya tak ingin itu terjadi
pada kalian. Melewatkan momen terbuka untuk menjual kenaifan pada waktu.
Maafkan
saya yang telah sampai di sini mempertahankan segalanya. Akan selalu terkenang
kenangan terhebat bersama kalian. Kenangan yang selalu dikais oleh gerimis dan
selalu akan dikais. Sayangnya kalian bukan lagi tempat bersandar, teman lamaku.
Kalian bukan lagi tempat berbagi peluh saat kesendirian telah menghakimi.
Sampai
di sini catatan saya untuk organisasi kedaerahan yang dulu pernah berjaya,
pernah bahagia, dan pernah berduka atas kepergian seorang kawan. Sampai bertemu
lagi di lain waktu saat saya tak lagi mati di atas umpatan.
Purwokerto,
15 Desember 2013.
Comments
Post a Comment