Cerpen Gadis Pinggir Pantai
Sore itu aku sangatlah lelah. Aku mencoba merebahkan tubuh ini di kursi malas. Setelah rasa itu hilang, Aku memperhatikan keadaan di sekitarku. Sungguh berantakan. Badan ini serasa ingin remuk karenanya. Gara-gara adik bungsuku, ruangan yang sempit ini kembali berantakan. Sejak sepulang sekolah aku harus membereskan rumah. Terlebih lagi, emak belum masak. Aku sangat lapar, aku membuka tudung saji, hanya ada nasi dan ikan asin. Bapak juga belum datang dari melautnya. Apa lagi yang hendak aku kerjakan? Lha wong di rumah tidak ada apa-apa. Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang tak berkasur hanya tikar lusuh yang ada. Aku ingat, lusa siang aku tak sengaja mendengar perbincangan emak dan bapak. Bapak mempunyai pikiran untuk merantau ke Jakarta dan tinggal di kampung nelayan bersama paman. Aku mengendus kesal. Bagaimana tidak, cerita Bi nani, paman sama sekali tak mengirimkan uang kepada anak istrinya di sini, malah katanya lagi beliau memiliki istri baru di sana . Betapa malangnya bibi, Ia harus membesarkan buah hatinya tanpa sang suami karena ia memiliki istri lagi di Jakarta . Dan aku takkan sanggup melihatnya jika hal itu terjadi pada emak.
Matahari masih enggan untuk kembali ke peraduan, walau senja akan hadir, namun matahari masih kokoh tegap di sisi langit. Laut menyampaikan pesan bapak yang sedang melaut, bahwa hari ini tangkapan melimpah. Aku turun ke pantai dengan menggandeng adikku. Dia terlihat sangat bahagia saat aku ajak mereka ke pantai. Rumahku memang di pinggir laut namun agak jauh dari pantai. Itulah sebabnya adikku sangat senang jika diajak ke Pantai. Kadang aku dan adikku bermain tokle ataupun mencari bintang laut. Jika malam tiba dari kejauhan terlihat berkelip-kelip di air, ubur-ubur menampakkan tubuhnya kepermukaan. Sesekali ku kejar tapi ubur-ubur itu semakin jauh. ingin sekali aku ke kota, bagaimana suasananya di sana ??? Apakah di sana semua orang tak menggunakan sandal, atau di sana hanya tempatnya orang-orang kaya???terbesit dalam lamunanku. Ku lempar pasir pantai sejauh mungkin walaupun buyar terkena angin.
“Dari mana kamu,Nduk?” tanya emak saat melihatku baru pulang. “Tadi mampir ke pantai, kangen aku, Mak,” Emak tersenyum kecil dan duduk di sampingku sembari membelai rambutku yang berantakan. “Bagaimana sekolahmu, Nduk? Emak dengar kamu akan diikutsertakan dalam olimpiade matematika, ya?” tanya Emak membuka percakapan. “Kok Emak tahu? Dari siapa emak tahu kabar itu? Aku ndak mau,” jawabku sambil melepas baju seragamku yang kotor.
“Lho, nopo to nduk? Itukan memang keinginanmu sejak dulu, katanya mau jadi ibu guru.”
“Ora, Mak, aku rak duwe sepatu,” ujarku polos. Emak tersenyum kembali.
“Sing Penting kui kudu rajin, kalau emak punya uang segepok, emak belikan kamu sepatu sing apik.”
“Emak cuma janji-janji saja, aku capek dengernya.”
Tapi emak hanya tersenyum melihat anak gadisnya ini.
“Ya sudah, sekarang kamu ganti baju, terus tidur sana , kelihatannya kamu capek, biar nanti emak yang mencuci piring.”
Aku berlalu sambil menyeret tas selempangan yang Kakak belikan sebelum ia hilang saat ikut Pak Sadri berlaut. Hanya tas ini yang menjadi kenanganku. Kakak pergi tanpa pamit dan ijin dari Emak dan Bapak, oleh sebab itu aku dianggap anak sulung dikeluarga ini.
Sinar matahari menyelinap dari celah-celah bilik lusuh ini. Sepertinya di luar sangat cerah, sebenarnya walaupun cerah atau tidak di Desaku memang selalu panas. Tapi hari ini berbeda, karena hari ini hari kepulangan Bapak berlaut selama 4 hari bersama kapal di pelabuhan. Bapak, semoga hasil tangkapanmu melimpah dan bisa membelikanku buku dan sepatu yang bagus batinku berharap aku mengambil handuk dan bergegas mandi agar aku bisa ikut membantu emak menyiapkan masakan jika bapak datang. Hari ini aku tak berangkat sekolah, karena sudah menjadi kebiasaan jika rombongan nelayan pergi berlayar lebih dari dua hari dan ketika Pesta laut atau biasa disebut Nadran, kami orang rumah harus menyiapkan makanan yang lezat untuk penyambutan.
Air di bak mandi habis, terpaksa harus menimba air dulu, maklum saja ini adalah MCK umum, karena masyarakat kampungku belum banyak yang mempunyai MCK sendiri. Saat aku sedang asik menimba air dengan pompa dari kejauhan aku menangkap bayangan Agung yang sepertinya sedang menanyakan sesuatu pada tetanggaku. Ahh urusan dia, untuk apa aku memperdulikannya tak penting, bukan?
“Tiar, cepetan dong, saya mau kondangan ni,” ujar Nana mengagetkanku, aku tak tau kalau ternyata air di bak sudah penuh. Aku langsung bergegas mandi karena MCK ini milik umum.
Aku menengok emak yang sedang menyiapkan makanan. Telaten dan sangat sigap. Emak ku memang hebat dan tangguh.
“Mak, aku harus bantu apa?” tawarku.
“Ora usah, mendingan kamu makan saja sana . Sekalian suapin Enok yah,” suruh emak. Aku bergegas mengambil nasi dan ikan asin. Aku dan adikku makan sambil mendengarkan radio.
“Mba, sekolah itu enak nggak sih mbak?” tanyanya polos, dan obrolan kami pun semakin asik.
Aku menggandeng adikku dan berdiri di antara orang-orang yang menungu kedatangan kapal nelayan. Emak ada di bibir dermaga bersama dengan istri-istri nelayan itu. Ketika aku asik dengan mata yang memandang kapal yang ada di ujung laut itu tiba-tiba mataku jatuh pada satu titik yang terdapat pada kerumunan ibu-ibu. Agung, yah agung ada di antaranya. Sedang apa dia. Sorot matanya tajam, seakan menusuk jantung ini. Aku mulai terganggu dengan bayang-bayang Agung yang mulai menari-nari di otakku, mengapa demikian.
Kapal bapak mulai merapat ke dermaga. Diangkutnya hasil laut yang didapat selama 4 hari itu, tangkapan bapak sangat banyak. Pasar akan ramai hari ini, dan aku bisa membeli sepatu. Tuhan.. betapa banyak nikmat yang kau berikan.smoga aku tidak kufur nikmat… amiin. Aku dan Enok menghampiri bapak yang menentengkan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menyeka keringat yang mengucur.
“Owalaaahh…cah ayu…bapak kangen sama Enok,” seru bapak sambil menggendong enok. Aku meraih tangan kanan bapak dan menciumnya. Sepertinya lama tak mencium tangan bapak.
Aku tatap wajah bapak, kerutan di wajahnya menggambarkan ombak laut yang bergelombang, perjuangan menerjang ombak , wajahnya yang hitam menggambarkan tak lelah bapak menantang matahari di tengah-tengah lautan yang setiap saat bisa saja menelan bapak di antara lekukan-lekukan ombak, tapi semoga hal tersebut tak akan pernah terjadi. Dan tangannya yang kasar berkulit tebal menggambarkan betapa kerasnya perjuangan bapak membuat keluarganya tersenyum. Laut adalah surga dan ibu bagi kami semua, tanpa laut kami tak akan bisa hidup dan mungkin hanya bisa mengandalkan belas kasihan pada pemerintah yang memang tidak pernah perduli pada rakyat kecil seperti kami. Pemerintah yang serba tercukupi, apakah terbesit di pikiran mereka bahwa mereka bisa seperti itu karena rakyat, mereka bisa menikmati gaji dan fasilitas “Wah” itu dari hasil keringat rakyat, dan mereka membolos seenaknya sedangkan rakyat menderita dengan ketidakpedulian para pejabat pemerintahan.
Seharusnya rakyatlah yang diagung-agungkan, harusnya rakyatlah yang menjadi penguasa di negeri ini, dan seharusnya rakyatlah yang dapat menikmati hasil keringatnya. Dikala pejabat pemerintahan menikmati gaji, tunjangan dan fasilitas dari negara, disaat itu pula ada anak negeri yang menangis karena sekolahnya ambruk dan hingga kini belum mendapatkan bantuan yang sedangkan pejabat justru kurang puas dengan gajinya yang besar masih saja mengoprek-ngoprek uang rakyat. Dikala pejabat pemerintahan asik dengan kemalasannya, ada anak negeri yang masih semangat walau tanpa alas kaki, ruang kelas yang tak berdinding serta beralas , dan kelas beratapkan terpal bahkan beratapkan langit. Negeri ini begitu tidak adil dan tidak mampu membuat anak bangsa tersenyum dan merasa dihargai, padahal mereka adalah penerus terbaik bangsa yang di mana pejabatnya kebanyakan selalu merasa kurang puas dengan apa yang mereka miliki.
Bapak, kulihat di matamu ada harapan yang besar terhadapku. Rasanya sulit bagiku membahagiakan orang tua saat kami terbentur masalah ekonomi. Mungkin aku hanya bisa menuntut tnpa tahu bagaimana caranya agar tuntutanku terwujud. Begitu sulitnya jadi orang miskin yang tak pernah didengar oleh pemerintah. Sulitnya beradaptasi ditengah-tengah teman yang berasal dari golongan orang kaya, beasiswa yang aku dapat seperti pembatas antara aku dan teman-teman yang berasal dari keluarga kaya. Bapak, semoga suatu saat engkau dapat membelikan lautan ini untukku, enok, dan emak. Yaah walaupun agak sangat bahkan tidak mungkin terjadi.
Aku masih memandangi ujung laut yang seperti berkabut. Tiba-tiba sesosok lelaki tampan menghampiriku dengan senyum yang sangat ingin kumiliki, senyum kebahagiaan, senyum yang dinikmati oleh orang yang kelebihan uang.
”Sendirian aja nih?” tanya Agung basa-basi. Aku hanya melihatnya sekilas dan kembali menatap laut yang tak berujung.
”Sendirian aja nih?” tanya Agung basa-basi. Aku hanya melihatnya sekilas dan kembali menatap laut yang tak berujung.
“Kadang sulit memahami seseorang yang sulit untuk speak up, ya aku akan mencoba memahaminya sekarang.” Mendengar perkatannya, aku langsung menoleh ke arah agung. “Apa maksudmu?!” tanyaku.
“Aku selalu melihat kamu dalam keadaan seperti ini, murung. Bolehkah aku tahu apa yang sedang kamu murungi?”
“Apa pun itu bukan jadi urusan kamu,” jawabku datar sambil bangkit dari duduk dan meninggalkannya yang masih terpaku.
Pagi ini aku harus ke pasar menemani emak belanja kebutuhan seminggu. Aku memegani tas emak sedangkan emak menggendong enok di punggungnya. Setelah membeli beras, aku mencoba meminta dibelikan sepatu. Emak menengok ke dompetnya, kosong. Aku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Kami pulang dengan berjalan kaki sejauh 3 Km. emak dengan punggung dengan kedua tangan yang membawa beras dan rempah-rempah, sedangkan aku menggendong enok dan air mineral. Jika kami memilih pulang naik kendaraan pedesaan pasti ada kebutuhan yang tidak terpenuhi selama satu minggu itu, sedangkan jika kami memilih jalan kaki maka otomatis kebituhan selama satu minggu terpenuhi.
Ketika kami melewati jembatan gantung di perbatasan desa johor dan desa krampeng, emak minta istrahat sejenak. Aku merasa sangat iba melihat emak yang kelelahan. Coba kalau pak kuwu mau meminjamkan mobil bak terbukanya untuk waarga, pasti tak akan ada lagi wajah kelelahan emak seprti yang aku lihat ini. Keringatnya mengucur deras ia meneguk air teh yang kami bawa dari rumah, kemudian kamu pun melanjutkan perjalanan ke rumah.
Lelah membantu emak memasak, aku memutuskan untuk tidur siang walau jam menujukkan pukul 3 sore aku tak kuasa menahan lelah dan kantuk. Bapak masuk sambil meletakkan jaring dan kail. Emak menyodorkan teh tubruk kesukaan bapak dan singkong rebus. Menyeruput teh dengan nikmat, bapak memandangi emak dan menerawang kelangit-langit
“Bu, kata pak karyo rumah kita akan digusur.”
“Apa??!! Bapak dengar brita itu dari siapa?” tanya emak kaget.
“Bapak juga sebenarnya tidak percaya, tapi pak karyo mendengar itu dari pak kuwu. Daerah ini akan dijadikan hutan bakau karena daerah ini rawan abrasi , bu.”
“Lalu kalau sudah begini, kita harus tinggal di mana lagi, pak? Hanya rumah inilah yang kita miliki.”
“Entahlah bu, bapak juga bingung,” ujar bapak bingung. Aku membalik badan sambil memegangi dadaku yang berdebar. Harus tinggal di mana kami nanti. Sudah dari dulu kami tinggal di sini, sebelum terbentuk daerah pemekaran dan bahkan sebelum desa kami masih sangat terpencil.
Di sekolah aku hanya murung, bapak selama 5 hari melaut bersama orang-orang pelabuhan, jika penggusuran itu dilakukan saat bapak tidak ada bagaimana nasib kami bertiga?? Pelajaran hari ini sulit aku cerna dalam otak yang aku pikirkan bagaimana nanti kalu rumah kami digusur.
“Tiar, kamu kenapa murung?” tanya Rahmi.
“Bagaimana perasaan kamu jika kamu sudah lama menempati suatu tempat begitu lama dan tiba-tiba kamu diusir dengan alasan yang tidak masuk diakal?” Aku bertanya balik pada Rahmi. Rami membenarkan letak kacamatanya.
“Pastinya yang pertama kita pasti bertanya-tanya mengapa demikian, kecewa, marah dan berontak pastinya, eh emang ada apa sih kok kamu nanyain gituan, serem kali.”
“Itulah yang sedang aku alamin sekarang,” jawabku datar. “Maksudmu?”
“Rumah ku akan dijadikan hutan bakau, sedangkan masih banyak lahan kritis yang lebih baik dijadikan hutan bakau, seperti di desa Ampreng, Celong, dan Patupan, daerah itu lebih baik yang dijadikan kawasan hutan bakau,” jelasku. Rahmi mengernyitkan dahi.
“Iya sih, daerah itu merupakan lahan kritis. Tapi kenapa justru daerah potensial seperti daerahmu, beberapa bulan yang lalu kita semua itukan mengkaji tentang potensi lahan dimasing-masing wilayah. Dan daerahmu merupakan lahan potensial yang belum banyak penduduknya. Tapi kok pemerintah menunjuk daerahmu untuk daerah gusuran,” ungkap Rahmi sang jenius.
“Entahlah, aku tak memikirkan itu,” ujarku yang membuat Rahmi semakin bingung.
“Nah loh, lalu apa??”
“Bapakku pergi melaut selama 5 hari, sedangkan kami tak tau kapan penggusuran itu akan dilaksanakan, warga desaku sedang berupaya agar pemerintah mengurungkan niatnya untuk menggusur desa kami. Bapak berpesan pada kami agar jangan pergi sebelum bapak pulang melaut. Aku melihat kegundahan di hati emak.” Rahmi terhenyuh dan memelukku.
Pandanganku masih kosong, baru saja kemarin kami merasakan betapa senangnya menyambut bapak yang pulang dari melautnya selama 4 hari. Kini harus waspada dengan penggusuran yang mendadak. Matahari yang menyengat takku hiraukan. Dari kejauhan sudah terlihat desa nelayanku. Aku lahir dan tumbuh di sini, pahit manisnya kehidupan bapak dan emak ada di sini. Kisah cinta anak pantai nelayan ada di sini, dan seketika pias oleh keputusan penggusuran.
Badan yang bau keringat membuatku tak betah dan langsung menuju ke MCK, untung saja sedang kosong. Bergegas dan bergegas mandi. Hanya cukup 5 menit saja untukku membersihkan badan. Ketika keluar dari kamari mandi, aku sudah ditodong oleh orang berbadan besar dan menyeramkan. Dalam bayanganku, ia pasti menyeretku ke belakang bilik dan memaksaku membuka pakaian dan ..! Aahhh tidak boleh aku berprasangka buruk. Matanya sangat tajam dan tersimpan kekejaman tiba-tiba. Aku tak mau mengambilkan resiko lebih banyak lagi. Aku menunduk dan permisi untuk lewat.
Aku dengan keras membuka pintu rumah yang sudah sangat rapuh itu sambil menutupkan dengan kencang hingga emak terkaget-kaget dibuatnya,
“Maaf mak, Tiar takut. Di luar banyak algojo berkeliaran. Ada apa sih , Mak?” tanyaku sambil memburu nafas. Emak menarik nafas, “Mereka itu yang menjaga wilayah ini, kita disuruh cepat-cepat meninggalkan tempat ini,” ujar emak. “Mereka menawarkan ganti rugi lahan, tapi nominal uang itu tidak sebanding dengan pengorbanan kami selama di sini,” tambah emak, lalu aku tidur dipangkuan emak.
Malam yang berbeda, desa ini sudah tidak nyaman, sudah tak lagi damai. Menatap langit malam di pantai sudah tak lagi leluasa. Para algojo-algojo itu berkeliaran sampai kadang-kadang mengusir kami yang biasanya bersantai di pinggir pantai. Apa yang dapat aku lakukan untuk desaku ini? Apa yang dapat aku lakukan?
Hari minggu ini aku datang ke sekolah lebih awal 15 menit dari waktu janjian, aku membawa peta wilayah daerah dan buku pembahasan yang pernah aku kaji bulan lalu. “Hai sudah datang kau rupanya, maaf telat soalnya sopirku tadi kesiangan. Bagaimana? Jadi kita kaji ulang?” seru Rahmi. Aku mengangguk mantap. Aku akan melakukannya demi kelangsungan hidup masrakat desa nelayanku. “Kita mulai dari mana?” tanyaku. “Menurut aku, mendingan kita mulai dari ciri-ciri fisik wilayah kamu dan membandingkannya dengan wilayah lain yang lebih membutuhkan.” Rahmi membuka catatan dan notebooknya.
Tiga jam sudah aku dan Rahmi menyusun kerangka proposal dan mengumpulkan bahan dari materi pelajaran lalu. Rahmi menyenderkan badan ke bangku, sepertinya ia sudah merasa penat. Seprtinya aku sangat merepotkan Rahmi. Rahmi menoleh ke arahku dan menatapku. Ia tersenyum semangat. “Apa aku tidak merepotkanmu?”
“Tiiiaarr…. Jangan ngomong kaya gitu ah, aku ini ikhlas membantu kamu dan warga desa nelayan. Urusan penyampaian proposan itu sih gampang, selesai ini aku akan membuat 5 proposal kajian kita kepada kepala sekolah, papahku, kuwu desamu, ketua OSIS kita dan satu laginya kita simpan, dan aku akan bicara pada papa kalau dia harus membantuku.” Rahmi mengepalkan tangannya semangat. Setahu aku, ayah Rahmi adalah salah satu anggota DPR yang mengurusi keuangan tapi, ya semoga beliau dapat membantu. Rahmi mau membantu aku hingga titik darah penghabisannya. Entah apa yang membuatnya demikian??
Setelah lelah kemarin mengerjakan proposal dan mengantarkannya pada orang-orang yang akan membantu, sekarang tinggal menunggu konfirmasi apakah proposal kami diterima dan memperbolehkan kami berdemo.
“Tiar, kita tinggal menunggu keputusannya. Semalam papahku ke rumah rekannya yang mengurusi bagian lingkungan hidup dan sumberdaya alam. Nanti jika diterima, kita akan mengerahkan teman satu sekolah dan masyarakat sekitar untuk berdemo dan kita akan berdiskusi dengan tetinggi yang ada di kabupaten ini,” jelas Rahmi.
“Yaaa… atur sajalah, aku sudah pasrah.”
“Looooh kok begitu. Ini demi desamu. Semangat!!!!” Tidak lama kemudian Bagus Ramdhan sang ketua OSIS memanggil kami berdua ke ruang kepala sekolah dan membicarakan hal ini. Rasa-rasanya aku tak menyangka bahwa Rahmi akan berupaya sedemikian rupa untukku, prasangkaku terhadap Rahmi berubah, ternyata anak anggota DPR belum tentu sombong. Pembicaraan serius itu berlangsung, ku ungkapkan semua tentang desaku, bagaimana masyarakatnya, dan lain-lain.
“Bagaimana, Pak?” tanya Bagus, kepala sekolah terdiam sejenak memikirkan dan mempertimbangkan segalanya, beliau menatapku, Rahmi, dan Bagus bergantian.
“Oke, saya injinkan. Saya akan menaruh laporan ke kepolisian. Besok kalian bisa berdemo dan berdiskusi dengan salah satu pihak yang terkait. Bapak jamin ini semua lancar.”
“Alhamdulillah!! Terima kasih banyak pak!!” aku dan Rahmi bersamaan.
Kami pamit meninggalkan ruangan. “Lalu apa yang nanti harus kita lakukan sekarang?” tanyaku .
“Nanti aku akan memanggil ketua kelas masing-masing dan membicarakan ini semua,” jawab Bagus. “Terimakasih banyak yah, Gus.”
Aku pulang dengan wajah ceria tanpa rasa lelah yang biasanya aku rasakan. Emak, sebentar lagi kita tak perlu merasa waspada akan penggusuran. Anakmu ini akan memperjuangkan nasib emak, bapak, dan warga desa ini. Aku janji mak!! Aku memeluk emak seerat-eratnya.“Kamu kenapa nduk?” tanya emak heran melihat anaknya ini berbeda dari sebelumnya. Aku hanya tersenyum lalu mencium emak.
Sekaranglah. Aku mengumpulkan energi dan keberanian semalam untuk hari ini. Hari di mana aku akan memperjuangkan hak warga desa nelayan bojong kidul. Kami berjalan dari SMP Purnawirawan 4 menuju kantor DPR , memakai seragam Pramuka dan membawa spanduk yang bertuliskan “LAUTKU RUMAHKU SURGAKU, HENTIKAN NIAT PENGGUSURAN” kurang lebih demikian. Aku, Rahmi, dan Bagus berjalan di belakang Bapak kepala sekolah yang ingin terjun langsung karena ini adalah pertama kalinya beliau mengadakan demo ke kantor DPR terhormat. Sampai di depan kantor DPR kami semua menyerukan maksud dan tujuan. Para satuan pengaman DPR keluar dan polisi ikut andil dalam aksi demo kami. Lima belas menit kami menyerukan aspirasi, terlihat dari kejauhan orang tua Rahmi turun dan mempersilahkan perwakilan pendemo masuk. Kepala sekolah, Guru PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup), Ketua OSIS, aku dan Rahmi masuk ke dalam . kami di ajak masuk keruangan bagian lingkungan hidup dan sumberdaya alam.
“Silahkan duduk.” Semuanya duduk, kepala sekolah membuka perbincangan.
“Saya Tiar , salah satu warga desa nelayan bojong kidul. Saya dan warga lain sudah dari jaman nenek moyang menempati wilayah itu. Memang itu adalah satu-satunya daerah yang potensial tapi masih banyak daerah lain yang membutuhkan konservasi lahan,” ujarku. “Selain itu pak, wilayah lain seperti di desa Ampreng, Celong, dan Patupan, daerah itu lebih baik yang dijadikan kawasan hutan bakau, sebab wilayah itu termasuk daftar lahan kritis yang sangat membutuhkan konservasi. Sedangkan di desa nelayan bojong kidul itu wilayah yang sudah potensial dan saya rasa wilayah itu tidak perlu digusur, hanya sedikit dibenahi mengenai nilai estetikanya. Bias dijadikan kawasan wisata. Sedangkan wilayah yang termasuk lahan kritis itulah yang seharusnya menjadi perhatian bapak-bapak sekalian.” Pak Indra sang guru PLH menjelaskan.
Pembicaraan semakin memanas antara aku dan anggota DPR itu. Aku tak takut dengan resiko yang akan aku tanggung jika pendapatku menurut mereka salah.
“Bapak-bapak dan ibu-ibu , kalian itu dipilih oleh rakyat dan mengabdi untuk rakyat, seharusnya kalian itu mementingkan kesejahteraan kami, kami tidak menuntut diberikan rumah yang bagus, fasilitas dari Negara, dan diberikan uang yang melimpah, yang kami inginkan hanya berikalah hak kami, kami hanya orang pantai yang sudah merasa terpinggirkan dan kami mohon jangan buat kami semakin terpinggir,” Keluhku.
“Tapi kami sudah menawarkan uang penggantian rugi atas tanah kalian, apa itu tak cukup?” ujar salah satu wanita anggota DPR sambil meletakkan ponselnya ke tas.
“Cukup,” jawabku datar. “Lalu apalagi permasalahannya?” aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Kebahagiaan dan ketenangan kami tidak dapat tergantikan oleh uang yang banyak. Jika memang anda-anda smua memiliki hati urungkan niat penggusuran karena memang kami tak pernah mengusik kinerja kalian selama ini, kami selalu mendukung seluruh program anda para anggota DPR namun jika anda mengusik desa kami, mohon maaf saja jika kami melawannya.” Aku menarik nafas panjang. Jantungku berdebar kencang menanti keputusan hakim siding.
“Tenang Tiar, semoga ini memihak pada mu,” ujar Rahmi menyemangatiku.
“Iya Tiar, sekolah pasti akan mendukungku sepenuhnya.” Pak Indra menepuk-nepuk pundakku, ku alihkan pandangan pada pak kepala sekolah beliau tersenyum menyemangatiku.
Dua puluh menit kami ,menunggu keputusan dari hakim sidang kini perwakilan bagian Lingkungan hidup dan sumberdaya alam angkat bicara.
“Setelah menimbang dan mengkaji proposal yang dibuat serta mendengarkan keterangan dari hadirin sekalian, kami memutuskan,” pembicra tadi terdiam dan menoleh ke arah hakim, hakim mengangguk. “Kami memutuskan membatalkan penggusuran Desa Nelayan Bojong Kidul kabupaten. Keputusan hakim nomer 104/DPR/PEMDA/065.”
Semuanya bersorak sorai termasuk aku dan Rahmi. Betapa senangnya aku.
Kusambut senja ditapal batas kecamatan. Aku ayunkan kaki kemenangan. Aku menyelamatkan Desa. Kau tau betapa aku merasa bangga dan sangat bahagianya menyelamatkan Desaku tercinta, seperti mimpi ku gapai impian kedamaian warga Desa nelayan. Tiba di gapura masuk Desa, aku disambut oleh puluhan warga Desa. Aku Tiara Rystikawati anak SMP Purnawirawan 4 telah membuat senyum warga Desa kembali seperti dulu. Diantara senyum itu kutemukan senyum Agung yang mempesona namun terkalahkan dengan senyuman emak yang menyambutku.
“Emaaakkk!!!!!”
Dan mungkin suatu saat emak lah yang akan menjadikanku lebih baik dari ini. Hingga sore aku dapat menikmati indahnya sunset bersama enok dan agung yang menggenggam erat tanganku. “Gadis pinggir pantai,” ujar agung.
Comments
Post a Comment