Layaknya balita yang baru bisa belajar, aku melangkah bersamamu. semboyan kita serupa. semangat kita pun tak jauh berbeda. layaknya hujan yang tumpah, aku kehilanganmu. arah kita mulai tak segaris, kesanggupan bersama pun mulai benar-benar hilang. jari lemahku hanya bisa menjelajahi dunia mayamu, dunia yang bisa aku lihat walau kau tak bisa membalas tatapanku. saudaraku, dalam lemahnya kebahagiaanku aku masih dapat membayangkan kau duduk bersama denganku. dalam satu ukhuwah, dalam satu cita bersama. saudaraku, saat aku kembali pada putaran yang lalu kulihat wajahmu yang berseri denganku, kebesaran hati yang kita bangun bersama, keramaian persaudaraan yang kita rekam bersama, menjadi tamengku saat ini. saudaraku, hanya doa dan harapanku untuk terus bisa bersua denganmu masih ada inginku untuk bahagia dalam satu jajaran yang berbeda jalan, namun saudaraku, tapak kakiku kian parau! tak bisa lagi menjejali kerikil yang menusuk. kau tak lagi bisa menoleh padaku, kau tak mamp...