Janji Jogjakarta


Karya: Rosawati 
Masih ada pembatas antara aku dan beberapa harapan ke depan. Saat aku masih masuk dalam alam khayal yang menjamu hari-hariku. Pahitnya harapan dan rasa pesimisme mengalun merdu disetiap tegukannya. Bagaimana diri ini bisa berangkat menyendiri di kota asing tanpa ada seorang pun yang bisa aku tiduri kediamannya dan bagaimana aku mencegah kesesatan dalam menelusuri jalan Jogja yang masih belum juga terbayang selain kawasan yang bernama Malioboro. Terik matahari kota Purwokerto menyeretku kembali pada kenyataan, hari ini aku masih terombang-ambing dalam menyiasati harapan menyendiri dan mencari pelajaran dari sebuah jalanan. Di sela-sela keletihan menuju kampus yang terasa amat jauh dari tempat persembunyianku, aku menjangkau kembali alam bawah sadar yang kemudian tak ingin usir. Tak akan aku usir!
Dosen masih menyuarakan bermacam teori pendukung dan sajak ilmu, seperti karikatur bermulut besar yang sedang memberikan khutbah jumat. Kembali kucatat, kutanggalkan satu persatu dan membangun sebuah pertanyaan untuk pertemuan ini. Sesekali ku tebarkan pandangan ke seluruh ruang kelas dengan kapasitas 100 mahasiswa ini. Aku perhatikan ada yang diam-diam menyusun rencana liburan, ada yang sedang menanggalkan dunia nyata, ada yang memaku di depan Hp, dan ada yang melipat muka dengan kebingungan program yang akan diberikan saat pengabdian masyarakat. Suasana inilah yang akan aku rindukan kelak. Aku iri sungguh iri. Dengan pasti mereka punya rencana dan akan terlaksana, urusan keputusan Tuhan itu belakangan. Aku sendiri saja duduk tepat di bawah pajangan pendingin ruangan, mengantarkan pesanan alam nyata. Bahwa aku harus penuhi janjiku di Jogja.
“Aku titip bunga desa yak.” Danar berbisik pada kawannya yang persis ada dibelakangku. Sementara dengan suasana Dosen menunggu beberapa pertanyaan yang akan dilontarkan, entah sebagai ajang untuk mendapatkan nilai A atau untuk membuka kepucatan pemikirannya.  Aku kembali menutup catatan dan memesan rasa lapar yang asing itu. Ya, semenjak pagi tadi tak secuil makanan mampir di lambung yang penuh dengan asam. “Ya, Silahkan!” Pak Muslih berbinar melihat ada yang mengacungkan tangan. Sirojudin. “.....Lalu kemana muaranya akar dari permasalahan yang bapak sebut analogi corong itu?” tak lengkap aku menjamah pertanyaannya, terang saja, 8 baris perbedaan jarak tempat dudukku dengan si penanya Sirojudin. Pak Muslih tersenyum dan melepaskan lipatan tangannya. “Analagi corong di sini adalah keadaan di mana pemerintah hanya memberikan peluang kepada pengusaha atau kalangan atas untuk meluaskan sayap modalnya, sedangkan masyarakat menengah ke bawah semakin meningkat tanpa memperoleh aliran air yang bertambah dari pemodal itu.” Aku dengan tabah menganggukkan kepala, hari ini pendengaranku sedang malas untuk meneliti. 
Gelap mulai menghadang pandanganku dan Jupe, kawan sekelas, sejurusan, dan sepersembunyian, melewati jalan kampung Bancarkembar yang masih terdengar deru sapa antar pemilik warung nasi dan penjual burung itu. “Lapar nggak?” tanya Jupe. Novi nama aslinya tapi aku dan kawan-kawan lainnya akrab memanggilnya Jupe karena gayanya yang sok seksi tetapi menurutku bukan karena dia yang sok seksi melainkan karena semangatnya yang seksi, demi Ibunya. Ya, Ibunya.  “Ehm iya nih, laper. Cape juga diet gara-gara nggak punya uang.”  Sambil tersenyum terlihat seperti orang kelaparan. Ada bait yang tertinggal saat rasa lapar itu mendera, lagi soal Jogja.
Aku mengenalnya dari jauh, suaranya yang bening dan semangatnya yang sunyi senyap. Merasa sejuk ketika mengenalnya 5 tahun lalu. Saat aku masih terbungkam airmata. Berjalan merunduk di bawah temaram lampu trotoar Malioboro. Keramaian seakan meredup menimang kesedihanku. Dua hari yang lalu, seseorang yang menuntunku memanah kanvas cerita pergi tanpa pamit dari kehidupan ini, dari ruang kemakmuran cinta yang baru saja aku rasakan. Wajahnya yang pucat pasi masih belum bisa membangunkan ketidakpercayaanku, dia yang menceritakan asa yang akan aku bangun, dia yang menjamahi alam bawah sadarku, dia yang sempat membuat aku mempunyai makna tentang untuk siapa aku hidup dan kini menamparku dengan keadaan lara.
Siapa yang mau memakan pahitnya cerita remaja oleh ketenaran duka. Semoga ditenangkan jasadnya saat aku mulai kembali mengorek memori tentangnya. Amiin! Langit Jogja merampas keramaian trotoar depan benteng, hujan yang turun tanpa permisi sementara aku masih belum juga pamit untuk berteduh. Membaur bersama hujan dan berharap duka ini luruh. Muncul beberapa hujatan dari dalam diri ini, apalagi yang harus aku sedihkan? Sementara dia telah bebas dari pesakitan. Bukankah harus aku syukuri? Tidak! Cinta ini ikut terkubur bersamanya. Bangunkan aku. Tolong bangunkan aku.
4 tahun lalu. Langit masih gelap, di hotel teman-teman rombongan study tour sedang bercerita ria sedang aku masih memaku di kursi trotoar. Aku tak tahu kemana fase ini akan berakhir, setelah berjalan amat jauh seketika navigator hilang dan aku berada dipenghujung mimpi yang akan kelak kami bangun. Aku tahu ini mustahil membangunkannya atau bahkan mengawetkan jasadnya untuk terus menemaniku mencapai cita. Aroma, bayangan, dan sentuhannya masih aku rasakan nyata, luar biasa nyata. Sudah mengigil tapi diri ini masih belum mau beranjak, di Jogja inilah kami akan mengalahkan malam, di Jogja inilah kami akan menghalau terik matahari. Hingga masih terlalu dini untukku menghadapi kenyataan dia telah tiada.
Di Januari 2013, aku kumpulkan energi menggagahi jalanan pantai selatan untuk sebuah janji. Lambung yang kian rusak dan mempengaruhi sebagian otak kananku untuk bekerja segera aku perbaiki, ujian di depan mata pun tak sanggup mengalahkan semangatku sampai di Jogja. Biarlah Tuhan mencatat apa yang aku ingin. Tak ada seorang pun di sini yang bersedia mendekap kepiluan, lalu kepada siapa lagi selain kepada Tuhan dan kenangan yang terus menderu dada ini. Semua orang tahu makna sebuah kebahagiaan sementara tak meridhai aku untuk kembali merasakannya bersama dirinya. Akan ku pastikan aku berada batas wajar dalam mengenangnya.
Rasa yang semakin membuncah ini berawal dari sebuah pertemuan yang merekahkan memori dirinya. Ya, tanpa aku mengerti ada desir semangat untuk menjelajahi Semarang dengan kelompok laboratorium rasaku, Teater Sianak. Menggilai teater dan pertunjukannya pada ajang perhelatan akbar Pekan Seni Mahasiswa Daerah. Jam makan siang hendak aku isi dengan mengadah dan beribadah di masjid kampus Universitas Negeri Semarang hanya membutuhkan waktu 20 menit dan hendak kembali ke kelas yang sementara dijadikan basecamp dari SiAnak. Desir angin yang membuat dedaunan menari sembari aku berputar pada rasa bangga masih diberikan waktu untuk memelacuri kota Semarang ini walau hanya beberapa jam saja. Mengedarkan pandangan pada kekagumanku yang tak beralasan. Mata ini memotret rona wajah, membuatku menguak rindu yang sedang tidak ingin aku rasakan. Ada pemandangan berbeda saat seseorang melewati jalanku, hanya beberapa meter dari jarak pandangku. Aku terpukau, seakan masih ada rasa yang seketika kembali sesumbar memanggil namamu.  Beberapa saat seseorang itu mengingatkanku kembali pada lembaran yang masih sering kubuka. Dosakah aku membuat seseorang itu menjadi masalaluku. Lagi, kutepis pandanganku dan membuncah pertanyaan siapakah seseorang itu?
Aku sepakat bahwa kematian dan kehidupan hidup berdampingan dan ketika dua manusia melakukan sebuah perjanjian bahwa kematian akan mempertemukan serta menyatukannya kembali. Sebatas skeptis antara hidup dan mati, pemanis perjalanan abadi. Sampai seseorang itu membangkitkan kenangan spiritualku, aku tak inginkan apapun dari pertemuan yang ada, hanya saja kurasakan kembali kekacauan. Selama itu pula ku akan mengabdi kepada kegilaan tanpa bisa mengelak. Temui aku pada pendaratan perahu, di sudut pulau ini bulan depan dan tengoklah kearah barat lalu tuliskan kalimat “Bintangku”. Lalu biarkan aku melambung karena kau telah pulangkan sumpah yang telah mustahil menjadi kenyataan. Temui aku hai seseorang yang ku potret dalam alam sadarku dan biarkan aku sekali lagi memeluk reinkarnasi yang pernah ada.
Semenjak itu aku mulai kembali meracau, di mana lagi harus aku temui kisah yang sama seperti bersamanya. Berharap satu yang ku temu ialah berjumpa denganmu. Indra. Belum sempat aku menguatkanmu saat pesakitan hingga akhir dari akhir nafasmu. Luar biasa berdosanya aku yang tak berada di sampingmu, itulah penyesalan yang hingga kini berkecambuk. Janji, sajak, dan petuah masa depan akan aku teliti tanpamu dan tanpa senyummu. Sajak janji bintang timur, janji kepalan Malioboro, dan pejamkan mata lalu akan ku temukan dirimu yang selalu ada untukku. Dan semua itu akan aku jarahi sendiri, tak bermaksud menganggu ketentramanmu tapi aku hanya ingin membuatnya berjalan walau tanpamu.
Harapan, siapa yang terlahir tanpa harapan? Akupun punya harapan. Lalu bagaimana bila kandas? Itu hanya masalah waktu. Ya, aku kembali tanamkan rasa optimis ketika ragu mulai mampir. Biar dia bahagia, aku harus bisa menjalani hari-hari dengan normal karena masih banyak hal yang aku lewatkan setelah kepiauan sedih  merampas matahari kehidupanku. Hidup terus berjalan dan siapa yang sangka ada kejutan manis dari Tuhan untukku.
Ujian akhir telah sepakat selesai hari ini, kusiapkan amunisi untuk menggagahi jalanan. Perbekalan sederhana dan semangat janji di temaram malam Malioboro. Untuk akhir kebungkamanku pada pilu sepeninggalnya dia. Semoga Tuhan setuju. Satu persatu aku nikmati perjalanan yang mulai dipenuhi oleh para pelajar yang berangkat sekolah. Tentunya jalanan tak semulus wajah air dalam baskom, beginilah jalanan yang sedang aku gagahi. Aku sadar bahwa secara fisik aku masih belum juga menemukan titik kesembuhan pasca semaput di kampus, tapi harus sampai kapan aku harus sepakat dengan kondisiku? Yang aku andalkan hanya semangat untuk menemui puncak janji yang pernah aku dan Indra ucapkan. Sialnya rasa lapar datang saat aku keluar dari Kutoarjo, aku angkat tangan dan memilih untuk istirahat walau hanya menikmati sepotong roti yang akan kubeli disebuah minimarket. “Hei matahari, akrabkan perjalananku ini, jalanan bantu aku menguatkan diri.” Sambil kunikmati roti sandwich coklat. Pandanganku sudah lengang tanpa sepenuhnya milikku, bermodal mengikuti iringan ambulan yang membuatku memperbanyak putaran Rpm spedometer, aku sampai di sebuah perbatasan Purworejo dan Wates! “JOGJA!! AKU DI SINI !!!” teriakku saat melihat tapal batas bertuliskan SELAMAT DATANG DI DIY JOGJAKARTA.
Aku berhenti di sebuah pom pengisian bensin. “Mba, Gejayan masih jauh tidak?” tanyaku pada seorang karyawan SPBU. “Wah masih jauh mba, kira-kira satu jam lebih lah dari sini.” Kulanjutkan perjalanan setelah memasukkan dompet ke dalam tas ranselku. Tiba di Glagah, angin mulai kencang menyambutku mungkin karena memang pinggir pantai. Di depan mata ramai, ada gelaran hajatan ditandai oleh musik dangdut yang menggelegar dan tak munafik pula badan ini ikut bergoyang. ABG TUA!! Cukup.cukup!! ini terlalu fulgar untuk ku tunjukkan pada jalanan. Seorang diri dengan mengendarai motor kopling 150cc aku gagahi jalanan menuju Jogja, untukmu dan kita!
Gejayan, di mana kau berada! Kawan semasa SMA menjanjikan tempat berteduh di Gejayan dan masalahnya sekarang adalah aku tak tahu sampai kapan tubuh ini sampai Gejayan! Aku putuskan untuk menelponnya, sialnya lagi nomornya tak sedang beroperasi. Angin yang masih bersemangat menggempur perjalananku mencari Gejayan perlahan senyap setelah tanpa sadar aku telah sampai di perempatan Tugu Pahlawan. “Waaaaah, nyampe sini juga!! Tapi Gejayan di mana?” hebohnya diriku mengundang animo pengendara yang juga sedang menunggu lampu berwarna hijau. “Mau ke Gejayan mbak?” tanya seorang lelaki paruh baya dengan motor pitungnya.”Oh, eh iya Pak.” Aku mengangguk tegas. “Dari sini lurus saja, nah nemu jalan yang mau ke arah Solo Mbaknya ambil kiri, nah ikutin jalan itu saja,” Terangnya sambil tangan menunjukkan arah dan mulut yang manyun-manyun. “Oh nggih Pak, matur nuwun!” “Mbak’e saking pundi tho?” “Kulo?” sambil menegaskan tangan ke dada dan cepat-cepat kujawab. “Kulo saking Purwokerto, Pak.” “Piyambekan?” aku mengangguk senang. “Alaah, alaaah, kendelan tho mbak!” obrolan kami terputus karena lampu telah berwarna hijau. “Lempeng mawon yo mbak.””Nggih pak, nuwun!”
Sepertinya lampu merah di sini durasinya amat sangat lama. 112 detik! Bayangkan! Matahari makin menghujani teriknya di atas kepalaku, “Hei matahari, pergi mandi dulu deh jangan kerjanya cuma bikin orang bau keringat karena terikmu!” ujarku dalam hati. Tiba di perempatan Gondomanan! Jadi teringat lagu Shaggy Dog dan akan  kutemui mereka sore ini di daerah Nagasari 1B! Sayidan, bantaran sungai yang terkenal oleh hitsnya Shaggy Dog, aduhai eksotisnya!
Setelah hampir setengah jam aku pun tak kunjung sampai di Gejayan. Di tengah kekikukkanku, Haris mengirimiku pesan BBM,
“Sudah nyampe mana?”
Dengan gesit langsung ku balas.
“Aku di depan jalan yang mau ke UNY”
“Lurus aja, nanti ada jembatan merah, kamu masuk situ.”
“Terus kemana lagi,Ris?! Panas banget nih, kayakne nggak nyampe-nyampe!”
“Udah cari aja dulu jembatan merahnya!”
Mulutku manyun-manyun, yang aku lakukan setelah pertigaan hanya lurus saja. Sekitar 800 meter munkin, aku temukan penanda menuju Jembatan merah. Di sambut oleh salah satu Universitas swasta yang gagah dan kembali aku ambil blackberry dan mengetik pesan.
“Udah di Jembatan merah di depan kampus. Terus kmn lg?”
Selang 4 detik.
“Ambil kanan, ntar ada cafe belok kiri, lurus dikit terus ada warung rokok kamu masuk gang itu, nah kontrakanku yang ada mobilnya!”
Benar saja, aku kira diperumahan elit, eh ternyata hanya kampung. Ya, aku tertipu! Tiba di depan kontrakan Haris, aku bantingkan diri di atas bale bambu. Akhirnya menikmatin juga udara Gejayan. Haris menyuruhku istirahat setelah meneguk segarnya es teh. Ku rebahkan diri di atas kasur busa dan pasrah dijalangi lelah.
Sebuah petaka terjadi saat aku dijalangi lelah, aku pikir hanya mimpi dan aku tetap acuhkan karena lelah masih juga belum pergi. Ada tangan biadab yang menggerayangi tubuhku. Si bangsat bermuka malaikat yang dengan baik hati menawarkanku tempat bermalam ternyata Cuma ingin menikmati tubuhku saja. Biadab! Ku menepiskan tangannya dari buah dada ini dengan tanpa basa basi aku keluar dari kontrakannya. “Cukup tahu saja betapa kotornya otakmu!” sambil membanting pintu aku menyalakan motor yang baru 1 jam istirahat.
Di kota besar ini aku cukup kebingungan, kemana aku harus berteduh Tuhan. Aku putuskan menjarah kantor Management Shaggy Dog dan melupakan sejenak masalah aku hendak bermalam di mana. Tak lama setelah kesenanganku berbaur dengan Shaggy Dog, Mas Andi dari komunitas Mime memberikan tumpangan di sekertariat Mime tepatnya di daerah Nitiprayan Bantul. Tak jauh dari tempatku berada di Nagasari aku dijemput oleh Mas Andi dan diperisilahkan istirahat di pondok sederhana Mime. Demi Tuhan yang dipuja puji dengan berbagai cara aku amat sangat bersyukur, di kota asing ini aku temukan orang baik seperti beliau dan Komunitas Mime. Lupakan siang yang biadab dan aku larutkan malam sambil berbincang ria dengan penghuninya.
Ruang utama dengan dua tiang kayu di tengahnya, papan tulis yang mulus tertempel sempurna di dinding pembatas, lampu kuno menjadi penambah suasana klasik nan sederhana. Perkenalan dengan beberapa penghuni yakni Mas Fikih dan Mas Ari serta tak lupa istri Mas Andi yang tercinta, Mbak Eva. Semuanya ramah dan menyambutku layaknya kawan lama yang sedang ziarah kerinduan. “Jadi kamu ke mari cuma mau penuhin janji doank? Istimewa. Dewekan sing Purwokerto , wedok, numpak motor, dasar anak nakal kowe!” Ujarnya sambil melipat tangan di dada. Aku hanya terbahak dan menyeruput teh hangat buatan tangan lentik Mbak Eva. Setelah semua keakraban larut aku memutuskan untuk menikmati udara malam Bantul di halaman belakang. Sebuah meja terbuat dari tanah liat dan 4 buah kursi mendampingi aku sulutkan rokok dan aku rasakan kehangatannya di setiap saluran pernapasanku. Aku juga tak tahu tepatnya kapan aku memutuskan menjadi penghisap. Yang pasti inilah pilihanku.
Longlongan anjing bersahutan menyambut pukul 23.00 WIB, aku masih ingin terjaga. Amat luar biasanya hari ini. Semangat, senang, lelah, dan kebengisan kawan SMA yang tak pernah aku sangka dia sebinal itu. Bintang bertaburan serta bulan sabit yang malu karena dinginnya bintang menyapa. Tak lama dari waktu ini, aku akan sakralkan janji kita Indra. Semata-mata hanya untuk mengikhlaskanmu saja dan kembali normal dengan kehidupanku yang penuh rona. Nitiprayan, jadikan saksi mimpi malamku!
Perjalanan siang ini di mulai dari penjelajahan Kota Gede, aku parkirkan motor di dengah deru kelaparan dan motor para pengunjung. Ya, aku juga ingin mendaratkan lapar di sebuah gerobak nasi rames depan gang yang berhadapan langsung dengan pasar. Lauk sederhana tapi luar biasa nikmat. Setelah ini akan ku cari cinderamata perak untuk mama dan kakakku sebagai cinderamata perjalanan pengsakralan janji.
Jogja dengan seribu keindahan, Jogja dengan seribu wajah ramah menjadi teman perjalananku menggagahi cerobong asap kota pelajar. Maliboro, tempat penuh ambisi dan kreativitas, yang menjadi buah bibir setiap pelancong asing. Lampu-lampu dan obrolan asik dengan tukang parkir sebagai pembuka napak tilasku di sini. Mereka harus berdiri dan menjaga motor berjam-jam sampai takut untuk meninggalkannya walau hanya untuk buang hajat sebentar. Ah, alangkah bersyukurnya aku buang hajat tanpa harus merasa gelisah kehilangan rezekiku.
Hari tak teras makin gelap, jam tangan menunjukkan pukul 18.00 WIB. Keramaian mulai membahana dan orang-orang berwajah unik menjalang di trotoar, Jogja aku tidak ingin kehilanganmu! Aku mulai mengeluarkan saputangan milik Indra sebagai perwakilan tangannya yang kekar namun lembut. Aku teliti setiap aromanya, setiap serat benang, setiap jahitannya.
Tuhan
Izinkan kami bertemu, meski
Langkah kian mengambang
Jarak antara kekuatan makin mustahil
Tuhan
Jinakkan naluriku
Naluri keserakahan menantikan kematian
1 waktu saja izinkan dunia ini,
Jogjakarta ini menjadi tempat pertemuan kedua kami
Jauhkanlah kami dari jarak, ruang dan waktu!
Izinkanlah Tuhan,
Izinkanlah walau satu hembusan nafas.
                Indra, alangkah deritanyaku kehilanganmu. Merasakan lara berkepanjangan. Hingga aku tak lagi mempercayai cinta dan kebersamaan. Kau biarkan aku karam di sudut pulau itu, kau biarkan aku mengemis bintang timur untuk mengantarkanku padamu. Tubuh ini masih mengigil mencarimu. Indra, di Malioboro ini, di tempat yang penuh sorak sorai  ini aku katakan, betapa luar biasanya aku mencintaimu. Mengenangmu dalam setiap sendu nafas dan disetiap doa aku menggugat Tuhan yang telah memisahkan kita. Demi Tuhan yang disembah dengan berbagai cara dan Demi Tuhan ku, aku ikhlaskan dirimu untuk selamanya. Membuka kembali batas kenormalan mencintai dan menyayangi semata-mata karena aku mencintaimu. Jangan larang aku untuk tetap mencintaimu, jangan tampar aku dengan ketiadaanmu yang menyedihkan karena dirimu hanya seberkas kenangan yang sedang ingin aku lipat rapih. Cintaku hanya sebuah mimpi dan semuanya begitu dekat denganku, tapi semua itu aku yang aku dapatkan hanya melihatmu tanpa bicara. Di kota orang asing ini aku lalui harapan hari kemarin, demi merajut mimpi dengan aroma yang kian mustahil. Menunggu dan berharap kau berada di sini lagi, tapi terlambat sekarang kau tak lagi bisa bernafas. Mungkin kami tak ditakdirkan bersama dan aku tak pernah ingin membiarkan cinta ini terbang jauh. Maafkan aku, aku harus melipat kenanganmu dan melupakan harapan kau yang bernafas bersamaku.
                Biar sementara airmata ini menggenani wajahku, sebentar saja aku terkepung kenangan tentangmu sebelum aku benar-benar melanjutkan hidup seperti yang kau inginkan! Aku genggam erat saputangan ini dengan penuh harapan ketenanganmu. Aku tak ingin membasahinya dengan airmataku ini. Indra, demi Tuhan dan semesta ciptaanNya, aku ikhlaskan kau untuk melanjutkan perjalanan. Maafkan aku yang selama ini menyiksamu, maaf yang mustahil terjawab. Di manapun hatimu berada aku tetap menjadikanmu sebuah bintang timur yang tak pernah lelah menjauhiku dari karam. Indra, selamat jalan kekasihku aku berjanji setelah ini aku akan membuka jalanku untuk sebuah kisah dan kenangan yang baru. Peluk aku dalam dinginmu, membiarkan tangismu tumpah di bahuku, dan jangan kau akhiri aku sebagai keabadianmu. Demi Semesta, aku melepasmu sayang!

Comments

Popular posts from this blog

TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA

Melankoli !

Sedang tebangun dari tidur panjang