Luangkan Rindumu Untukku
Layaknya balita yang baru bisa belajar, aku melangkah bersamamu.
semboyan kita serupa. semangat kita pun tak jauh berbeda.
layaknya hujan yang tumpah, aku kehilanganmu.
arah kita mulai tak segaris, kesanggupan bersama pun mulai benar-benar hilang.
jari lemahku hanya bisa menjelajahi dunia mayamu, dunia yang bisa aku lihat walau kau tak bisa membalas tatapanku.
saudaraku, dalam lemahnya kebahagiaanku
aku masih dapat membayangkan kau duduk bersama denganku.
dalam satu ukhuwah, dalam satu cita bersama.
saudaraku, saat aku kembali pada putaran yang lalu kulihat wajahmu yang berseri denganku,
kebesaran hati yang kita bangun bersama, keramaian persaudaraan yang kita rekam bersama,
menjadi tamengku saat ini.
saudaraku, hanya doa dan harapanku untuk terus bisa bersua denganmu
masih ada inginku untuk bahagia dalam satu jajaran yang berbeda jalan,
namun saudaraku, tapak kakiku kian parau!
tak bisa lagi menjejali kerikil yang menusuk.
kau tak lagi bisa menoleh padaku,
kau tak mampu lagi bisa menggandeng bersama cita kita
kau yang tak lagi bisa memecahkan gundukan batu yang menghalangi kita.
kau saudaraku, kau kakak seperjuanganku.
kau semangatku, dan tak ada kalimat lain yang bisa kuucapkan.
aku merindukanmu dengan kebersamaan kita yang benar-benar hilang.
rakyat kenangan kita sudah tak lagi bisa mengembalikan persaudaraan yang muncul.
kakakku, aku rindu.
untuk kakak angkatku Saepul Ar Rasyid
lama aku tak bisa lagi berbincang denganmu, tak adakah rasa untuk sekadar bertegur sapa, tak adakah niat untuk sekadar berkirim pesan "Hai sa, sehatkah kamu?"
kau tempatku bercerita, kau tempatku bertukar pendapat. kau yang aku percaya.
bisakah kau lihat kehinaan ini? hilangnya senyuman tulus itu, hilangnya kisah itu, dan hilangnya pengakuan aku adikmu pun benar benar tak lagi terdengar.
A Saepul, hanya kebersamaan dahulu yang ku kenang. kamu tahu nggak a? Perpisahan angkatanmu, aku baca puisi dadakan dan tanpa persiapan matang, itu aku lakukan cuma karena ingin tampil di depan kawan kawan semua, ingin memamerkan luar biasanya dukaku berpisah denganmu! walau ditertawakan, walau justru jadi bahan ejekan, tapi hanya satu keinginanku. ingin ku tunjukan, betapa hebatnya aku menyayangimu kakakku!! betapa luar biasa sedihnya aku berpisah denganmu.
semboyan kita serupa. semangat kita pun tak jauh berbeda.
layaknya hujan yang tumpah, aku kehilanganmu.
arah kita mulai tak segaris, kesanggupan bersama pun mulai benar-benar hilang.
jari lemahku hanya bisa menjelajahi dunia mayamu, dunia yang bisa aku lihat walau kau tak bisa membalas tatapanku.
saudaraku, dalam lemahnya kebahagiaanku
aku masih dapat membayangkan kau duduk bersama denganku.
dalam satu ukhuwah, dalam satu cita bersama.
saudaraku, saat aku kembali pada putaran yang lalu kulihat wajahmu yang berseri denganku,
kebesaran hati yang kita bangun bersama, keramaian persaudaraan yang kita rekam bersama,
menjadi tamengku saat ini.
saudaraku, hanya doa dan harapanku untuk terus bisa bersua denganmu
masih ada inginku untuk bahagia dalam satu jajaran yang berbeda jalan,
namun saudaraku, tapak kakiku kian parau!
tak bisa lagi menjejali kerikil yang menusuk.
kau tak lagi bisa menoleh padaku,
kau tak mampu lagi bisa menggandeng bersama cita kita
kau yang tak lagi bisa memecahkan gundukan batu yang menghalangi kita.
kau saudaraku, kau kakak seperjuanganku.
kau semangatku, dan tak ada kalimat lain yang bisa kuucapkan.
aku merindukanmu dengan kebersamaan kita yang benar-benar hilang.
rakyat kenangan kita sudah tak lagi bisa mengembalikan persaudaraan yang muncul.
kakakku, aku rindu.
untuk kakak angkatku Saepul Ar Rasyid
![]() |
| teh pipit, ka saepul, aku, ka wahidin. |
lama aku tak bisa lagi berbincang denganmu, tak adakah rasa untuk sekadar bertegur sapa, tak adakah niat untuk sekadar berkirim pesan "Hai sa, sehatkah kamu?"
bisakah kau lihat kehinaan ini? hilangnya senyuman tulus itu, hilangnya kisah itu, dan hilangnya pengakuan aku adikmu pun benar benar tak lagi terdengar.
A Saepul, hanya kebersamaan dahulu yang ku kenang. kamu tahu nggak a? Perpisahan angkatanmu, aku baca puisi dadakan dan tanpa persiapan matang, itu aku lakukan cuma karena ingin tampil di depan kawan kawan semua, ingin memamerkan luar biasanya dukaku berpisah denganmu! walau ditertawakan, walau justru jadi bahan ejekan, tapi hanya satu keinginanku. ingin ku tunjukan, betapa hebatnya aku menyayangimu kakakku!! betapa luar biasa sedihnya aku berpisah denganmu.
.jpg)
Comments
Post a Comment