Posts

Kemelut Hidupmu

Kemelut hidupmu Rosa Dia berbaring dengan damainya… Seaakan tiada keresahan… Namunku mengerti apa yang terjadi menimpa hidupmu…           Dalam tidurnya dia tersenyum…           Dia yang sangat aku kasihi…           Ingin aku berbagi derita denganmu.. Mama…….. mama…….. oh mama….. Kemelut hidupmu tiada henti…. Dalam pahitnya kenyataan… dengan ketabahan yang kau hadapi….. Meski apa yang terjadi…. Langkahmu tiada surut tuk menentang kehidupan….                     Di tengah malam aku berdoa pada-Mu tuhan yang pengasih..                     Bebaskan kami dari kegersangan badai kehidupan……

Renungan untuk Sahabat

Renungan Untuk Sahabat.....  Sahabat... Senandung dawai hati tidak akan pernah berhentiKarena ia adalah fitrah diri yang lahir dari kerinduan pada Ilahi Sahabat...kehidupan hanyalah sesaatTapi hidup ini berarti banyak untuk kehidupan selanjutnyaMari kita mohon pada AllahAgar hati ini terus bersenandungDan memuji serta mohon ampunan-Nya Ya Robb....Lindungi hati dan jiwa iniUntuk senantiasa selalu di jalan-MuAgar suatu saat rindu ini menjelma Dalam setiap tarikan nafas dan denyut nadi Sehingga tiada waktu yang tersia             Rengkuh kami dalam damai rindu-MuJadikan kami  hamba yang selalu merindukan-MuDan menjadi hamba yang Kau rindu Robb...Hanya di pantai kasih-Mu rindu ini berlabuh...

Menangis dalam hujan

Oleh: Ocha  Ku teriakkan matahari Ku teriakkan pelangi Kapan kau datang tuk hentikan hujan yang mengguyuriku sejak tadi Aku belum puas saat kau di sini, berdiri tegap sejajar denganmu. Lihat. Lihatlah batu-batu keras itu pun menjadi rapuh!  Rapuh karena lelah diterpa hujan deras Apalagi aku manusia tak berhati Stop..!! Stop..!! Hentikan . tolong hentikan ! Aku lelah menangis kali ini Hujan.

Memandang Gelap

Memandang Gelap…… Oleh : Rosa Hujatan Sepantaskah bila itu terlontar….. Sepantas pandangannya gelap akan diriku… Bilamana semua itu terkoyak hanya dari luar warnaku saja… Kebungkaman menggerogotiku Mereka mencari.. mereka mengoyak-ngoyakku.. Hingga tak ada lagi yang indah dariku… Menyepi dalam hujatan mereka yang merasa berkuasa Menangis dalam kritikan para dedengkot penguasa Dengan puasnya mereka tertawa!! Tawa gagap mencibir keluar hingga mulutnya berbusa.. Lalu apa yang bisa kau lakukan? Hanya bisa menghujat dan mengkritikkah anda??? Aku kau anggap diam, Aku kau anggap mati..!!! Aaarrrgghhh…. Kau hendak merubah haluanku.. tapi pandanganmu gelap akan diriku… Mau jadi apa? Seberapa buruk dan bodohnya aku, bukanlah kau yang merasakannya!!! Memandang gelap pun kau masih saja mengelak!!! Kau tuntut segara dariku…! Kau tuntut cakrawala dariku..!! tidakkah kau berkaca hai para dedengkot!! Hentikan kutukanmu padaku!! Hentikan tamparan hina padaku!! Lebih baik kau urus saja moralmu yang ...

Cantikku

Image
Cantikku Aku cantik Aku menawan Dan aku sangat menggoda. Pria-Pria gendut sempoyongan mengemis cinta padaku. Mereka busuk!! Mereka seonggok pecundang!! Mereka hanya menaruh setetes air hina di sini. Menunggangiku bak keledai!!! Pagar-pagar kemaluan menjulang tinggi dibatinnya. Hai pria-pria gendut!! Lihatlah aku Aku korban dari kebiadapan zaman. Aku hanya korban dari sebuah kepuasan!! Tolong!! Aku bukan pemuas!! Aku hanya ingin cantik bung Tapi aku tergadaikan Cantikku!!

Senja Itu

Senja Senja penutup kebencian.. Senja penutup duka. Senja penutup lara Hingga senja menutup bahagiaku. Burung-burung malam pun sepertinya enggan menina bobokan ku setelah senja datang. Ada apa ini? Ketukan hati mulai melemah seiring rembulan menyelinap di antara awan sanda kala. Akupun kini tlah mati.

Si Pendaki

Oleh Ocha Kau menyapaku dalam desahan angin sore.  Juga kau menyapa setiap bukit yang terlewati. Kau tebarkan cinta disetiap pucuk-pucuk kanopi. Dan kau taburkan putik mawar di dadaku yang dingin. Di peristirahatanku kau menyanjungku, membuatku semakin terbuai olehmu pendaki. Angin pegunungan mencuci wajahmu dan wajahku, hingga tak terasa aku dan engkau dalam satu irama nafas yang senada. Pejamkanlah matamu. Kini adalah saatnya kau merenungkan bagaimana titik-titik air di wajahku mengalir. mengapa jauh-jauh kau membuat sajak maaf untuk bulan tak berdarah, padahal aku ini yang menjadi korban kekesalan hatimu sang pendaki. Aku dan bukit berharap kau bisa membuat kami seperti tanpa cintamu. Purwokerto, 27 Maret 2011